Mayat Gadis Cantik ini Ditemukan oleh Paranormal

Durban, Afrika Selatan. Malam terus beranjak semakin larut. Sudah tiga jam Maud Aken mondar-mandir di ruang tamu, sambil berkali-kali melihat jam dinding. Sesekali perempuan tua itu membuka pintu, berharap Myrna Joy Aken (18), anak gadisnya, datang. Biasanya Joy sampai di rumah tak lewat pukul tujuh malam. Tapi malam itu wajah cantik anaknya tak juga muncul hingga pukul sepuluh malam.

Padahal, pihak kantor bilang, Joy pulang pukul enam sore. Perasaan keibuannya mengatakan, ada sesuatu yang tak beres dengan anak gadisnya. Tapi perasaannya tak mampu membedakan, apakah Joy mengalami … Jangan-jangan …. Ah, tidak!

Berkali-kali ia menyuruh Colin, anak laki-lakinya, untuk pergi ke kantor Joy. Berkali-kali itu pula Colin menolak.

“Buat apa ke sana? Dia ‘kan sudah keluar kantor,” bantahnya. Jawaban itu membuat ibunya kesal. Tapi ia tahu Colin benar. Mulutnya tampak berkomat-kamit tipis merapalkan sesuatu. Entah gerutu, entah doa. Continue reading

Sadis, Balita Malang itu Diculik dan Dibunuh

Kasus kriminal berikut ini adalah kasus terkeji dalam sejarah Jepang modern – di samping kasus Junko Furuta, dan menyita perhatian warga Tokyo. Melibatkan 30 ribu Polisi dan 13 ribu calon tersangka, serta butuh waktu 2 tahun untuk menangkap pelakunya. Simak saja.

Sebuah Truk Susu di Tokyo ikut menempel poster "Yoshinobu kun wo Sagasou"

Sebuah Truk Susu di Tokyo ikut menempel poster "Yoshinobu kun wo Sagasou" - "Mari Mencari Yoshinobu"

Sore itu, 31 Maret 1963, angin bertiup pelan. Semilirnya menyejukkan badan. Seorang anak laki-laki berusia empat tahun, Murakoshi Yoshinobu, tampak asyik bermain di sebuah taman yang terletak tak jauh dari rumahnya, di Taito Ward, Tokyo, Jepang. Keasyikan seorang bocah, yang tak menyadari, nun jauh di sana, sepasang mata mengawasi, menanti kesempatan untuk merenggut keceriaan masa kecilnya.

Murakoshi sudah biasa bermain di taman yang memang disediakan untuk warga sekitar. Sebuah taman kecil yang berhimpitan dengan blok-blok rumah warga, toko-toko, dan gedung-gedung beton. Saking seringnya bermain di taman itu, apalagi biasanya ditemani anak-anak tetangga, membuat orangtua Murakoshi merasa aman, sehingga menganggap tak perlu lagi mengawasi anaknya.

Makanya, sang ayah, Yoshinobu, kontraktor berusia 34 tahun, tak pernah tahu kalau saat itu, anaknya tiba-tiba dihampiri orang tak dikenal. Yoshinobu juga tak tahu, orang asing itu bahkan sempat mengajak Murokoshi bercakap-cakap, bercanda sebentar, berjalan-jalan di sekitar taman, sebelum akhirnya raib entah ke mana.

Bujukan macam apa yang dikeluarkan si orang asing, sehingga Murakoshi menurut saja diajak pergi menjauhi tempat tinggalnya?

Orangtua Murakoshi baru sadar, sesuatu yang kurang beres terjadi pada anaknya, ketika sampai menjelang jam enam malam, putra pertama mereka itu tak kunjung pulang. Padahal biasanya, Murakoshi selalu pulang jauh sebelum pukul 18.00 tiba, dengan perut lapar tentunya. Dibantu para kerabat dan tetangga, Yoshinobu mencoba menemukan Murakoshi dengan menyisir daerah sekitar taman. Namun, hasilnya nihil. Continue reading

Pasangan Lesbi ini Membunuh Demi Kesenangan

Alpine Manor, panti jompo lokal di Grand Rapids, Michigan, tahun 1986. Mata seorang penyelia memicing. Cathy, yang ditatap begitu tajam, jadi grogi.

“Jadi, suami meninggalkan Anda bersama seorang anak?”

Gwendolyn Gail Graham (atas) dan Catherine May Wood (bawah)

Gwendolyn Gail Graham (atas) dan Catherine May Wood (bawah)

Dengan menunduk, Cathy mengangguk lemah. Wajahnya mendung, hampir menangis. Padahal, hatinya terbahak, menertawai Kenneth – suaminya – yang pasti tengah repot mengasuh putri tunggal mereka.

“Baik, Anda diterima bekerja. Mulai hari ini.”

Cathy terbelalak. Tubuhnya yang berbobot 198 kg berguncang. Syukurlah, ia sudah bosan menganggur lama.

Ia segera bekerja sebagai pembantu perawat di panti dengan lebih dari 200 kamar tidur, masing-masing berisi dua pasien. Sebagian besar pasien menderita penyakit Alzheimer atau penyakit otak organik lainnya. Sebagian lain menderita sklerosis ganda atau arthritis parah.

Agak ragu dan tersipu, Cathy memulai kerja. Oleh rekan-rekan kerjanya mungkin ia dianggap terlalu sopan, atau bahkan kurang percaya diri, lantaran ia memilih makan sendirian, terpisah dari yang lainnya. Continue reading

Kekasihnya Tewas Di Jalanan

Pada 29 Juli 1997, suasana gedung pengadilan negeri di Birmingham tampak lebih ramai dari hari biasanya. Puluhan wartawan media cetak maupun elektronik menyemut sejak pagi di depan ruang sidang utama. Siang itu mereka menunggu pembacaan keputusan juri atas kasus Tracie Margurite Andrews yang didakwa membunuh tunangannya, Lee Raymond Harvey. Jarang sekali sebuah kasus pembunuhan sedemikian menyita perhatian pers dan warga Inggris.

Lee Raymond Harvey dan Tracie Andrews

Lee Raymond Harvey dan Tracie Andrews

Butuh tak kurang dari lima jam bagi juri untuk berunding, hingga akhirnya satu per satu terlihat kembali ke ruang sidang. Salah seorang wakil juri maju menyerahkan surat keputusan kepada hakim Buckley.

“Terhadap kasus Tracie Andrews, juri menyatakan terdakwa terbukti bersalah.” Demikian keputusan juri yang dibacakan singkat. Continue reading

Di Balik Dinding Kampus

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Manusia memang tak pernah bisa menduga-duga peristiwa yang bakal menimpanya. Uniknya pula, di balik peristiwa yang tampaknya membahagiakan, terkadang tersembunyi masalah pelik yang siap menghadang. Bagaimanapun, kebaikan dan kebenaran tetap harus ditegakkan.

Demikian pula nasib Richard Macris (19), mahasiswa New York University (NYU). Musim semi tahun 1977 ia serasa mendapat durian runtuh ketika terpilih menjadi asisten di laboratorium Dr. John Buettner-Janush, ketua jurusan antropologi. Ia memang sangat bangga karena untuk bisa bergabung dalam tim BJ, begitu ilmuwan terkenal itu acap disebut, harus melewati serangkaian tes yang bahkan lebih sulit ketimbang ujian tulis formal di sekolah.

Tentang Dr. John Buettner-Janush, bisa dilihat di Wikipedia : http://en.wikipedia.org/wiki/John_Buettner-Janusch. Meninggal tanggal 2 Juli 1992 karena Pneumonia (sumber : http://www.nytimes.com/1992/07/04/nyregion/john-buettner-janusch-67-dies-nyu-professor-poisoned-candy.html)

Macris dengan penuh semangat melakukan tugasnya – menganalisis sampel-sampel darah. BJ amat dikenal di kalangan ilmuwan, terutama karena sebuah proyek penelitian beberapa tahun sebelumnya. Penelitian biologis itu mampu menunjukkan hubungan antara protein darah pada lemur dengan kelompok kera pada tingkat yang lebih tinggi, misalnya gorila. Macris yakin, tugasnya kini berkaitan dengan penelitian BJ yang sedang tertarik membandingkan faktor darah antara manusia dengan monyet.

BJ meraih gelar B.A., B.S., dan M.A. dari University of Chicago, sedangkan Ph.D-nya dari University of Michigan. Pengalaman mengajar didapat dengan memberikan kuliah di Yale selama tujuh tahun. Pada masa-masa itu ia menulis buku teks antropologi yang amat terkenal, The Origins of Man (http://www.amazon.com/Origins-Man-John-Buettner-Janush/dp/B001KRUPXO). Continue reading

Lukisan Cat Minyak Tanpa Tekstur

Rune "Roy" Donell

Rune "Roy" Donell

Rune “Roy” Donell (61) punya masalah serius. Pria bertubuh tinggi besar yang sebagian rambut tipisnya mulai beruban itu mengakhiri tugasnya di Angkatan Laut Swedia sebelum berimigrasi ke Amerika Serikat tahun 1976. Namun, ia tetap mempertahankan dirinya sebagai warga negara Swedia.

Masalahnya klasik, soal uang. Saat itu ia masih bekerja dengan gaji cukup. Di tempatnya bekerja, sebagai kepala urusan rumah tangga merangkap supir pribadi, ia mendapat bayaran AS $ 25.000 per tahun.

Karena telah bekerja di rumah tangga itu selama sebelas tahun, tak heran bila majikannya sangat percaya padanya. Ia dapat dengan mudah mengakses salah satu rekening untuk mengeluarkan dana kebutuhan rumah tangga keluarga itu. Selama bekerja, Roy dapat menggelapkan total sekitar AS $ 20.000 – 30.000 per tahun. Dengan dana tambahan uang panas itu, Roy punya cukup uang untuk menghidupi kedua istrinya.

Belakangan Roy merasa tubuhnya mulai lemah, mudah sakit. Di tubuhnya mulai bercokol sejumlah penyakit, mulai hernia, tekanan darah tinggi, dan psoriasis.

Lalu, bagaimana kalau ia tidak bisa bekerja lagi di rumah jutawan itu? Ia prihatin dengan kehidupannya dan kedua istrinya.

Christina, istri pertamanya, enam tahun lebih tua dari dirinya. Ia bekerja di rumah yang sama sebagai jurumasak. Christina sudah menggeluti profesi itu tujuh tahun lamanya. Namun, Christina bukan merupakan suatu kekhawatiran bagi Roy. Justru istri keduanya yang diprihatinkannya.

Si cantik Esther Ariza yang berkulit gelap, langsing, dan menggoda itu 16 tahun lebih muda daripada Roy. Tanpa uang, Esther pasti akan meninggalkannya Roy. Esther – imigran asal Kolumbia – senang berpakaian bagus dan berjalan-jalan. Ia memang menuntut banyak dari Roy.

Belum lagi ada Andy (20), anak Esther dari suami terdahulu, yang membutuhkan banyak biaya untuk pendidikannya. Selama ini seluruh kebutuhan hidup Esther memang ditanggung Roy. Continue reading

“Nyanyian” Sang Putri

Stella Nickell

Stella Nickell

Tahun baru 1986 terasa kelam bagi Johnson & Johnson (J&J). Perusahaan Amerika Serikat itu diajukan ke meja hijau oleh tujuh keluarga, mewakili tujuh korban tewas dalam tragedi “kapsul beracun”. Mereka menghujat dan menuntut ganti rugi dari J&J dan anak perusahaannya, McNeil Consumer Products Inc., yang memasarkan obat pengurang rasa nyeri yang terkontaminasi sianida. Tylenol, nama obat itu, langsung menjadi musuh nomor satu masyarakat.

J&J makin terjepit, setelah polisi sama sekali tak berhasil menemukan jejak misterius tercemarnya Tylenol. Penemuan pihak berwenang berhenti hanya pada dugaan bahwa sebagian obat asli telah dicampur sianida oleh pengoplos gelap sebelum botol Tylenol “aspal” dijual layaknya obat asli.

Padahal berbagai upaya mengungkap kasus ini telah dilakukan, dengan mempertimbangkan berbagai motif. Termasuk meneliti siapa kira-kira yang bakal meraup untung besar jika perusahaan raksasa AS itu mengalami prahara di lantai bursa. Maklum, tragedi kapsul beracun membuat saham J&J anjlok drastis. Celakanya, dari jutaan transaksi yang diperiksa, tak sedikit pun ditemui titik terang.

Sementara itu, masyarakat mulai resah. Drama pengoplosan mematikan yang tanpa jejak itu makin terasa mengerikan, setelah media massa, baik cetak maupun elektronik, meliput besar-besaran kemalangan J&J dan kegagalan polisi. Mereka menyebut kasus di Chicago itu sebagai kejahatan sempurna, the perfect crime. Memang demikian kenyataannya

Menggali makam suami

Polisi dan FBI bak menjadi sasaran bulan-bulanan. Pekerjaan rumah yang satu belum selesai, tugas tak kalah berat sudah menanti.

Berita mengejutkan datang dari Seattle. Susan Snow, wanita berumur sekitar 40 tahun yang tengah menanjak kariernya didapati meninggal seusai menenggak dua butir kapsul Excedrin, bikinan perusahaan farmasi Bristol Meyers. Kapsul itu, seperti Tylenol, juga obat pengurang rasa sakit.

Susan dan suaminya, Paul Webking, memang dikenal sebagai penggemar berat Excedrin. Paul (45) sudah lama mengidap penyakit radang sendi. Untuk mengatasi rasa ngilu di pagi hari, biasanya sehabis bangun tidur atau setelah mandi ia menelan dua kapsul Excedrin. Pagi itu, 11 Juni 1986, ia beruntung lolos dari maut, karena kebetulan obat yang diminumnya kapsul yang asli, bukan hasil oplosan.

Nasib berbeda menimpa Susan yang “salah pilih kapsul”. Perempuan yang disenangi tetangga kanan-kirinya karena selalu tampil enerjik dan opimistis itu menelan dua butir yang telah teracuni. Kariernya yang tengah menuju puncak dia baru saja dipromosikan sebagai vice president Puget Sound National Bank tinggal kenangan. Anak perempuannya, Hayley (15) yang pertama kali menemukan ibunya terbaring tak sadarkan diri di lantai kamar mandi.

Meski segera dilarikan ke rumah sakit, Susan tak pernah lagi siuman. Tepat enam jam setelah kejadian, Susan Snow mengembuskan napas terakhir. Dengan berlinang air mata, Paul Webking mengizinkan tim dokter mencabut alat bantu pernapasan yang berjam-jam menahan kematian istrinya. Lewat pernyataan resmi yang dikeluarkan beberapa saat kemudian, RS King County Medical Examiner menyimpulkan, penyebab kematian Susan lantaran Excedrin berisi sianida. Continue reading