Direkrut Jadi Mitra Pembunuh

Janos Telek berjalan terseok-seok di sisi Istvan Stefan Hollossy. Hatinya pedih, karena sebenarnya ia tak ingin meninggalkan apartemen penuh kenangan di Timmendorf itu. Apalagi ia harus melakukan perjalanan paling aneh sepanjang hidupnya, tanpa tahu arah yang dituju, serta kapan dan di mana akan berakhir. Semuanya tergantung Hollossy, lelaki bengis yang baru saja membelokkan perjalanan hidupnya. Saat berjalan kaki menuju tempat parkir, pikirannya sempat menerawang, membayangkan kembali peristiwa mengerikan yang terjadi beberapa menit sebelumnya.

… Istvan Stefan Hollossy mengeluarkan sebatang rokok dari saku jas, menyelipkannya ke sela-sela bibir, lalu menyulutnya dengan santai. Seperti biasa, gayanya macho dan berwibawa, persis anggota geng mafia. Wajahnya begitu dingin, dengan mata menatap tajam, langsung ke bola mata lawan bicaranya, Cornelia yang sedang duduk santai di sofa.

“Kamu bilang, urusan bisnis kita selesai sampai di sini?”

“Ya …, sebaiknya begitu,” ucap perempuan cantik itu. Hollossy tampak mengangguk pelan. Lelaki bermata kucing dengan ekspresi yang tak mudah ditebak itu kian tajam manatap Cornelia. Yang dipandang jadi salah tingkah.

“Aku dan Janos berencana menikah. Untuk itu, mulai sekarang, kami harus lebih rajin menabung,” sambung Cornelia.

Di pojok ruangan, Janos Telek terlihat gundah. Ia memperhatikan dengan seksama percakapan Stefan dan Cornelia. Saking seksamanya, Janos sempat terperangah ketika tiba-tiba Stefan mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya. Hollossy mengarahkan pistol berdiameter 7,65 mm ke arah Cornelia Renz. Dalam hitungan detik, dorrrr! Jidat wanita seksi itu ditembus peluru. Cornelia langsung jatuh di karpet, tak jauh dari tempat Hollossy berdiri.

Dengan mata kepala sendiri, Janos menyaksikan Cornelia meregang nyawa di karpet. Dua kali kaki wanita cantik itu bergerak, geliat refleks orang yang sedang sekarat, sebelum akhirnya tak bergerak sama sekali.

Perempuan asal Yugoslavia berusia 20 tahun itu langsung meninggal. Janos betulbetul tak percaya, gadis manis yang beberapa bulan terakhir ini mengisi hari-hari indahnya, sekarang terbaring kaku dengan lubang di kepala. Ia makin tak percaya, karena tak dapat berbuat apa-apa untuk menyelamatkan kekasihnya.

Semuanya begitu mengejutkan. Bagaimana mungkin Hollossy tega membunuh Cornelia dengan cara sekeji itu? “Bukankah ia yang memperkenalkan aku pada Cornelia?” pekik hati kecil Janos ….

Traktir sepanjang malam

“Aku berjanji, ini tidak akan menjadi perjalanan yang penuh intrik. Tapi semata-mata perjalanan bisnis. Aku punya penawaran menarik untuk kamu,” suara Stefan membuyarkan lamunan Janos. Stefan tak menjelaskan penawaran apa yang dibawanya, dan Janos pun tak pernah ingin tahu. Mereka akhirnya sampai di tempat parkir, dan segera masuk ke mobil Opel Rekord tua kepunyaan Janos. “Kamu saja yang menyetir,” pinta Stefan sembari melirik lelaki di sampingnya dengan ujung matanya.

“Tapi, SIM-ku baru saja dicabut sabtu lalu,” jawab Janos.

“Siapa bilang mengemudi harus selalu pakai SIM,” bantah Hollossy. “Kamu boleh percaya atau tidak, saat ini polisi di lima negara menganggapku sebagai buronan. Tapi aku ‘kan tidak boleh berhenti menyetir di negara-negara itu. Jadi, apa masih ada gunanya SIM buat orang seperti aku?”

Hollossy lalu “memotivasi” Janos, betapa suksesnya ia selama ini sebagai penjahat, karena nyaris tak pernah tersentuh hamba hukum. Menurut Hollossy, polisi Hungaria, Austria, Swiss, Jerman, dan Swedia selalu gagal menangkap dan memenjarakannya secara permanen, dan sampai saat ini masih terus memburunya untuk mempertanggungjawabkan perampokan sejumlah bank, pemilikan senjata api ilegal, serta beberapa percobaan pembunuhan.

Hollossy juga bercerita, sebelum sampai di Luebeck, Jerman, petualangan terakhirnya adalah meloloskan diri dari sebuah penjara di Swedia, tempat ia seharusnya menjalani hukuman 20 tahun penjara. Dalam hati, Janos merasa ngeri. Stefan yang duduk di sampingnya, ternyata jauh lebih buruk dari Stefan yang dikenalnya selama ini. Sambil mengemudi, pikirannya kembali melayang, ke saat pertama kali dia bertemu Hollossy dan Cornelia. Sebuah pertemuan yang sangat mengesankan ….

… Janos Telek datang ke Luebeck, Jerman, sebuah kota di pinggir laut Baltik, setelah ditawari bekerja sebagai salesman sebuah perusahaan margarin. Ia gampang mendapat pekerjaan, karena kefasihannya berbahasa Jerman, yang hampir sama dengan kemampuannya berbicara dalam bahasa-bahasa semenanjung Balkan lainnya. Kepandaian bercakap-cakap dalam berbagai bahasa pula yang membuatnya berkenalan dengan Stefan Hollossy.

Stefan, pria kelahiran Hongaria, sedang nongkrong di bar Blue Mouse, tempat gaul malam terkenal di Luebeck. Saat itu, Janos menyapa Stefan dalam bahasa Hongaria. Begitu senangnya Stefan, sampai-sampai ia mentraktir Telek sepanjang malam. Usia Stefan tak beda jauh dengan Janos. Stefan mengaku sedang merintis karir sebagai bintang iklan. Janos begitu terkesan pada kawan barunya itu, yang sangat gampang menghamburkan uang. “Penghasilannya pasti besar,” cetusnya dalam hati.

Janos baru tahu pekerjaan Stefan “yang sebenarnya” setelah ia diajak menemui sumber dana yang tak ada habis-habisnya itu. Siapa lagi kalau bukan Cornelia Renz, gadis cantik nan mempesona. Perjumpaan pertama Janos dengan Cornelia terjadi di Kazoria, sebuah bar bergaya Yunani. “Saya butuh duit, Cornelia,” kata Hollossy, sembari duduk di meja, sambil terus menghisap rokok. “Hebat,” desis Janos, “Merek rokoknya sama dengan yang dihisap Al Capone.”

Tanpa basa-basi, Cornelia mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dan menyerahkannya kepada Hollossy. Janos agak heran, melihat betapa mudahnya Stefan mendapat uang. Ia menduga, kawannya itu mucikari, sedangkan Cornelia pelacur yang punya banyak langganan orang kaya dan terkenal. Namun siapa pun Cornelia, di mata Janos, malam itu ia terlihat luar biasa. Janos bahkan merasa jatuh cinta pada pandangan petama.

Saat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Ketika Stefan pergi ke kamar kecil, Janos memberanikan diri mengajak Cornelia kencan. Hebatnya, tanpa berpikir panjang, Cornelia langsung menerima. Sejak itu, Janos makin sering bertemu Cornelia. Sampai akhirnya ia tahu, Stefan dan Cornelia memang berhubungan erat. Namun bukan hubungan mucikari – pelacur seperti diduganya semula.

Cornelia memang melacur, tapi tidak dengan tubuhnya. Dia pun memberikan sebagian penghasilannya pada Stefan dengan “sukarela”. Hubungan mereka lebih mirip sepasang kekasih, atau setidaknya gadis manis dengan centengnya ….

Korban pertama

Janos kembali terbangun dari lamunan, ketika mobil yang dikendarainya hampir bersenggolan dengan mobil lain. Di kursi sebelah, Stefan mulai mengoceh lagi. Dari ocehan Hollossy, Janos jadi tahu, Cornelia merupakan korban pertama yang meninggal di tangan Stefan. Sebelumnya, penjahat itu tidak pernah membunuh orang, meski korban yang dilukainya tak terhitung. Stefan bukan orang yang gemar membunuh untuk kesenangan. Ia melakukannya untuk memecahkan kebuntuan atau jika memang benar-benar dibutuhkan. Saat merampok bank misalnya, ia tidak pernah menembak orang-orang di dalam bank yang tidak melakukan perlawanan. Baru jika ada yang mencoba macam-macam, dengan senang hati dia akan menembaknya sampai mati.

“Mungkinkah Stefan menembak Cornelia untuk memecahkan kebuntuan?” tanya Janos, lagi-lagi hanya di dalam hati. “Tapi mengapa harus Cornelia? Mengapa pula harus diselesaikan menggunakan pistol? Bukankah segala sesuatunya masih bisa dibicarakan? Cornelia sama sekali tidak layak mati dengan cara seperti ini. Dia perempuan baik, bahkan sangat baik,” Janos mencoba menekan emosi yang melecut hati.

Cornelia memang perempuan baik-baik. Dia bukan pelacur seperti diduga Janos sebelumnya. Ia wanita pemijat terlatih berjari “emas” yang memiliki diploma dan tahu seluk-beluk pijat kesehatan. Bekerja di Little Sea Castle, sebuah hotel mewah di pantai Timmendorf, Teluk Luebeck, beberapa mil di sebelah utara kota. Gajinya di hotel mewah itu lebih dari mencukupi. Sampai akhirnya dia bertemu Stefan Hollossy di Nautic Bar, tempat gaul malam yang cukup laris di Luebeck.

Layaknya orang Hungaria, Hollossy berwajah dan penampilan menarik. Meski tidak tinggal serumah dengan Cornelia, mereka sering menghabiskan waktu bersama. Sayangnya, Stefan yang tidak mempunyai pekerjaan tetap mempunyai gaya hidup yang bisa membuat semua pacar-pacarnya sengsara. Ia dikenal gemar menghambur-hamburkan uang di bar. Selera gaul dan cara berpakaiannya pun meniru kalangan the have.

Berbekal tabungan Cornelia, Stefan membeli Fiat 124 berwarna hijau terang, agar bisa bolak-balik Luebeck – Timmendorf tanpa harus naik bus. Cornelia, tentu saja tak dapat terus menerus menopang gaya hidup Hollossy. Lama-kelamaan, rekening tabungannya makin menipis. Saat itulah, Stefan menyarankan agar Cornelia “melacurkan” jari-jemari emasnya.

Menurut lelaki perlente itu, dengan keahlian dan pengalamannya, Cornelia layak mendapat penghasilan yang lebih besar. Untuk itu, ia tidak boleh terpaku hanya pada “pijat kesehatan”. Sebagai usaha sampingan, Cornelia mestinya juga menawarkan “pijat organ-organ khusus” bagi pelanggan yang menginginkan. Sialnya, petuah sesat Hollossy itu ditelan begitu saja oleh Cornelia.

Aneh memang, Cornelia yang cantik, terlatih dan pintar mau saja menuruti permintaan Stefan. Apalagi belakangan terbukti, ia sebenarnya tidak betul-betul jatuh cinta pada lelaki itu. Cornelia jatuh cinta (lagi) pada Janos, cinta pada pandangan pertama. Dia bahkan terkesan tak takut pada Hollossy. Jadi, sebenarnya tak ada alasan Cornelia melacurkan jari-jari emasnya, hanya untuk membiayai gaya hidup Stefan.

Meski singkat, Janos merasa beruntung sempat merasakan kebahagiaan bersama Cornelia. Mereka berpacaran seperti ABG yang baru saja mengenal cinta. Keduanya tinggal di apartemen Cornelia di Timmendorf, membuka tabungan baru, serta menikmati tiap akhir pekan dengan makan malam di berbagai tempat makan murahan. Tidak seperti Stefan, Janos tidak suka menghambur-hamburkan uang di bar atau tempat-tempat makan mahal. Mereka merasa sangat klop.

Stefan yang mencium hubungan Janos dan Cornelia, satu kali pun tidak pernah menyatakan keberatannya. Sampai suatu sore, 3 April 1975, ia menelepon temannya itu. Stefan bilang, dia punya “penawaran bagus” untuk Janos. Namun ketika tak lama kemudian Stefan sudah muncul di pintu apartemen, Janos sadar lelaki itu sedang merencanakan sesuatu. Sebuah kejutan yang tampaknya sudah dipersiapkan jauh-jauh hari.

Peristiwanya berlangsung sangat cepat. Jarak antara kedatangan Stefan, percakapan singkatnya dengan Cornelia, dengan aksinya memgeluarkan pistol dan menembak kening Cornelia dari jarak dekat, hanya sekitar 5 menit ….

Berkelahi pun belum pernah

Janos melirik Hollossy. Lelaki itu tampak tenang, sangat tenang. Sepanjang perjalanan, satu per satu pertanyaan tentang Stefan, yang selama ini berkeliling di benak Janos, mulai terjawab. Termasuk pertanyaan, mengapa Janos sebagai satusatunya saksi mata pembunuhan Cornelia dibiarkan tetap hidup, bahkan diajak berkelana oleh Stefan.

“Aku bosan sendirian. Terus terang, aku menyukai kamu Janos. Aku ingin kamu menjadi partnerku. Pasangan dalam melakukan kejahatan,” tegas Hollossy, suatu ketika.

“Mulai sekarang, kamu harus membiasakan diri berpikir praktis. Kita butuh uang untuk makan, minum, bayar hotel, menikmati perempuan, beli baju, dan beli bensin. Di luar sana banyak sekali orang kelebihan uang. Jadi, sah-sah saja jika kita mengambilnya sedikit dari mereka ‘kan?” sambung Stefan.

Janos cuma menjadi pendengar yang baik.

“Cara paling gampang, kita rampok toko saja. Orang yang ada di sana pasti membawa uang. Ada yang sedikit, ada pula yang banyak. Tapi kalau mau uang yang sangat banyak, kita harus merampok bank. Yang terakhir ini tingkat kesulitannya tinggi. Aku enggak akan mengajak kamu merampok bank, sebelum punya pengalaman melaksanakan “operasi kecil”. Pernah membunuh orang dengan menggunakan pisau?” tanya Hollossy.

“Tidak,” sahut Janos singkat. Ah, jangankan membunuh, belajar jurus-jurus berkelahi saja Janos tidak pernah. Buat dia, kekerasan hanya bikin pusing kepala.

“Tidak masalah. Kita masih punya banyak waktu untuk latihan.”

Untuk kesekian kalinya Janos terdiam.

“Bagaimana kalau latihan kita mulai dengan merampok toko? Aku akan mengalihkan perhatian pemiliknya dengan mengajak dia ngobrol. Lalu kamu berputar ke arah belakang, mengancamnya pakai pisau,” cetus Stefan. Janos masih mencari jawaban terbaik, ketika Stefan kembali nyerocos.

“Tapi sepertinya lebih baik jika kamu memukul kepalanya pakai besi. Kamu bilang tadi, belum pernah memakai pisau, ‘kan?”

Janos kini manggut-manggut, bukannya setuju pada rencana Stefan. Namun ia mengerti, mengapa Stefan selalu berusaha mendorongnya melukai atau membunuh orang lain. “Sekali saja aku melukai orang, apalagi sampai membunuh, aku akan jadi buronan, sama seperti dia, sehingga tak ada jalan lain, kecuali menjadi pasangannya,” ucap Janos, tentu di dalam hati.

Masalahnya, kapan ia harus bertindak? Menghadapi Stefan, modal nyali saja tak cukup. Harus ada strategi khusus. Ah, bicara soal nyali dan strategi, Janos kembali teringat peristiwa mengerikan siang itu ….

Jika terjadi dalam novel atau film, pasti akan digambarkan sosok Janos sedang yang marah besar atas pembunuhan Cornelia. Janos mungkin saja akan merebut pistol Stefan, lalu balas menembak banjingan itu di jidatnya. Sayangnya, kejadian itu terjadi pada kehidupan nyata. Janos hanyalah salesman perusahaan margarin, bukan Superman atau Batman. Dia bahkan tidak yakin Stefan akan membiarkannya tetap hidup, karena dialah satu-satunya saksi mata pembunuhan Cornelia.

Jarang sekali ada pembunuh yang mau menoleransi kehadiran saksi mata. Makanya dia begitu lega, lega yang teramat dalam, ketika tahu Stefan memasukkan kembali pistolnya ke kantung jas.

“Ayo kita angkat mayatnya ke tempat tidur. Tuhan tahu, tempat ini dan waktu kita juga sangat sempit,” ajak Stefan pada Janos.

Dalam keadaan terkejut, tak mudah bagi Janos untuk menuruti perintah Stefan. Dia juga tidak tahan melihat darah yang mengucur dari lubang di kepala Cornelia. Yang paling membuat hatinya sedih, adalah mata gadis itu terbuka lebar, seolah memandangnya dengan pandangan minta tolong. Karena Janos tak kunjung bergerak, akhirnya Hollossy sendiri yang memulai mengangkat mayat Cornelia. Beberapa saat kemudian, baru Janos membantu meletakkan mayat Cornelia di tempat tidur.

Janos sempat kaget ketika tiba-tiba Stefan berkelebat.

“Nenek itu, dia masih tinggal di sebelah rumah, ‘kan? Jangan-jangan, dia ikut mendengar suara tembakan tadi,” sergah Stefan. “Aku tidak mau ada saksi mata lain.” Stefan segera mengeluarkan pistol dari balik jaketnya, lalu menyelinap keluar, menuju apartemen sebelah. Janos seorang komunis, tapi menghadapi situasi seperti ini, ia berlutut, meski tak tahu harus berdoa pada siapa. Seluruh persendiannya lemas.

Beberapa saat kemudian, Stefan kembali. “Dia tidak ada di rumah,” teriaknya pada Janos. Janos menarik napas lega, karena tak ada pembunuhan lagi. Namun, bagaimana dengan nyawanya sendiri?

Di Ratzeburg, 20 mil dari Luebeck, mobil mereka mengalami masalah. Hollossy memutuskan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju toko logistik terdekat. Setelah itu, mereka bermalam di rumah teman Stefan. Malam yang berat buat Janos, karena hampir sepanjang malam, dia tak dapat memejamkan mata, memikirkan kejahatan apa kira-kira yang akan dilakukannya bersama Stefan besok.

Esoknya, pagi-pagi sekali mereka sudah naik kereta api menuju Hamburg. Sampai detik itu, Janos tak pernah mengeluarkan uang sepeser pun. Stefan betul-betul menepati janjinya, berlaku seperti bos mafia, yang bertanggungjawab atas semua yang terjadi pada anak buahnya. “Selama ikut aku, kamu tidak perlu membayar apa pun,” bilang Stefan.

Jam sembilan pagi mereka sampai di Hamburg. Siang dan sorenya, mereka menghabiskan waktu mensurvei berbagai toko perhiasan. Seperti biasanya, Janos tak banyak bicara. Apalagi setelah Hollossy menunjukkan tiga pistol yang selalu dibawanya ke mana-mana. “Orang-orang selalu bilang, mengantungi pistol terkokang itu berbahaya, tapi aku lebih suka mati karena pistol sendiri, daripada tertembak musuh karena pistolku tidak siap,” ucap Hollossy setengah mengintimidasi.

Mereka menginap di Union Hotel. Hollossy mengunci pintu dan memasukkan kuncinya ke kantung celana, lalu kkkrrrr, tidur pulas. Janos sempat mempertimbangkan menibani kepala Hollossy dengan lampion. Namun, nyalinya mengkerut jika mengingat refleks Hollossy bak macam kumbang. Pertimbangannya terbukti benar. Jam dua pagi, Hollossy dengan sigap meletakkan pistol di telinga kanan Janos, setelah mendengar bunyi sirine mobil polisi yang sedang berpatroli. Betul-betul mirip macan kumbang.

Celah di antara celah

Esoknya, hampir seharian mereka habiskan untuk mensurvei kembali toko-toko perhiasan. Begitu sore tiba, Hollossy yang tidak pernah menginap dua malam berturut-turut di satu tempat, memilih menghabiskan waktu di sebuah hotel di pinggiran kota. Seperti kemarin malam, lagi-lagi Hollossy membangunkan Janos di paruh pagi. Kali ini bukan karena mendengar mobil patroli polisi.

“Aku sedang berpikir tentang uang kontan. Kita butuh uang kontan. Bagaimana kalau kamu turun dan membunuh perempuan tua pemilik hotel ini, lalu merampok uangnya?”

Janos kaget alang kepalang. “Tapi kalau kita merampok tempat ini, polisi akan mencari-cari kita. Padahal kita sudah berencana merampok toko perhiasan,” tolaknya halus.

Hollossy berpikir sejenak, lalu mengangguk. “Masuk akal. Tak kusangka kamu ternyata partner yang pintar.”

Mereka lalu kembali “tidur”, meski praktiknya, mata Janos tak pernah terpejam sampai pagi tiba.

Paginya, lagi-lagi Hollossy mengajak Janos mengintai toko-toko perhiasan, kali ini yang berjejer di sepanjang Spitaler Street, kawasan yang lumayan ramai oleh pejalan kaki. Janos makin deg-degan. Firasatnya mengatakan, inilah tempat paling tepat untuk menghindari perbudakan Hollossy. Namun, bagaimana caranya?

Janos terus mencari celah. Suatu saat, Hollossy tampak sangat serius mengamati pintu masuk sebuah toko perhiasan. Nah, ketika sang residivis mencari celah masuk, Janos justru menemukan celah untuk melarikan diri. Pelan-pelan, dia bergeser menuju ujung sebuah gedung, menghilang di balik gedung itu, lalu sekuat tenaga berlari menuju sebuah pusat perbelanjaan, masuk dari satu pintu dan keluar dari pintu yang lain. Janos kemudian menyetop taksi. “Tolong antarkan aku ke kantor polisi,” pintanya singkat.

Sepuluh menit kemudian, Janos sudah bersaksi di depan Inspektur Frank Luders dan Detektif Max Peters dari Kantor Kepolsian Hamburg. Oleh Luders, semua cerita Janos dikonfirmasi lewat telepon pada kepolisian Luebeck dan Timmendorf. Begitu mendapat kabar positif, yakni ditemukannya mayat Cornelia, Frank Luders dan Max Peters langsung meblokir Spitaler Street dan memeriksa gedung-gedung di sekitarnya. Polisi juga berjaga-jaga di stasiun dan gerbang keluar kota lainnya.

“Menurut Anda, di mana kira-kira dia sekarang?” tanya Luders.

“Entahlah. Dia berencana merampok salah satu toko perhiasan yang kami survei. Tapi dia sendiri belum memutuskan, toko mana yang akan dirampok,” jawab Janos.

“Sersan, kumpulkan data semua toko perhiasan. Tempatkan minimal satu orang polisi di sekitarnya,” perintah Luders pada Peters.

Namun Hollossy tetap Hollossy. Jika tekadnya sudah bulat, tak satu pun rintangan dapat menghalangi niatnya. Tak juga polisi. Siang menjelang sore, penjahat berdarah dingin itu merampok Hoellinger Jewellery di Alstertor Street. Dengan senjata otomatis 9 mm, dia melukai pemilik toko Josef Hoellinger (74 tahun), menembak mati istri Josef, Maria (66 tahun), dan pembantu mereka Cristel Semmelhack (33 tahun).

Hollossy lalu membajak truk yang dikemudikan Werner Novak. Novak selamat, setelah lari terbirit-birit meninggalkan truknya, begitu tahu status Hollossy dari radio. Beberapa saat kemudian, Hollossy menembak Walter Klein, yang ditemuinya di Ifflland Street.

Polisi yang datang ke lokasi atas laporan Novak, menjumpai Klein dalam keadaan luka parah. Namun Klein sempat menunjuk gedung Grauman’s Way No 20 sebagai tempat Hollossy bersembunyi. Polisi, didahului oleh pasukan khusus, menyerbu masuk. Namun, dor! dor!, Hollossy memberikan perlawanan sengit. Gas air mata pun melesak ke dalam gedung, seiring desingan peluru dari kedua belah pihak.

Beberapa saat kemudian, tembak menembak reda. Polisi mendapat seorang lelaki terbaring tak bergerak, dengan luka tembak di bahu kanan, kepala, dan kaki kiri. Hollossy telah mati.

Belakangan diketahui, peluru 9 mm nan mematikan yang bersarang di kepala Hollossy, ternyata berasal dari pistolnya sendiri! Sampai kematikannya, Hollossy masih ingin menentukan nasibnya sendiri.

(Kisah Nyata/John Dunning/Icul) – Kumpulan Cerita Kriminal Majalah Intisari

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: