Horor Di Mount Vernon

Singapura tahun ’70-an, bukanlah negeri yang bersahabat buat trio warganya, Ong Chin Hock, Yeo Ching Boon dan Ong Hwee Kuan. Mereka merasakan betapa tersiksanya hidup dengan penghasilan pas-pasan. Sementara biaya hidup makin hari kian tinggi. Malam itu, 21 April 1978, seperti biasanya tiga pemuda berumur 20 tahunan itu bermain biliar di Kallang Amusement Centre (KAC). Hanya di tempat itulah, mereka dapat tertawa lepas, melupakan segala beban.

Selepas nyodok, mereka ngobrol ngalor ngidul di sebuah taman, tak jauh dari KAC. Banyak hal diobrolkan, mulai masalah politik sampai kesehatan. Tapi ujung-ujungnya, tak jauh dari urusan perut. Maklum, kecuali Chin Hock yang sedang menjalani wajib militer, Ching Boon dan Hwee Kuan statusnya pengangguran.

“Hidup pasti jauh lebih mudah, kalau kita punya banyak duit,” ujar satu dari mereka.

“Ya, dengan duit, kita bisa berbuat apa saja.”

“Tapi dari mana kita bisa mendapat banyak uang?”

Ketiganya terdiam. Kuan yang berwajah kasar melontarkan ide setan,”Bagaimana kalau kita merampok?”

“Ide gila. Tapi boleh juga,” sahut Yeo yang bertampang innocent.

“Tapi kita harus punya pistol. Zaman sekarang, lebih enak merampok pakai pistol,” balas Kuan.

“Ya. Aku tahu cara mendapatkan pistol dengan gampang,” cetus Yeo. Ia lalu bercerita tentang tempatnya berdinas saat wajib militer dulu, markas polisi yang juga berfungsi sebagai asrama pasukan cadangan, di Mount Vernon. Tentang penjaga pos kecil di pintu gerbang, yang hanya dijaga satu orang dan lebih sering dipercayakan pada polisi wajib militer. Juga perihal waktu terbaik untuk melakukan tipu daya, yakni lewat jam dua belas malam, ketika konsentrasi petugas jaga mulai kendur.

“Yang belum aku tahu, bagaimana caranya merebut senjata petugas jaga.” Mereka berpikir keras dan saling melontarkan ide. Tapi sampai jam sebelas malam, tak jua terbersit jalan keluar. “Oke. Sekarang kita pulang. Tapi ingat, kita harus cepat mencari solusi masalah ini,” bisik Yeo pada kedua sohibnya.

Putus sekolah

Yeo, Hock dan Kuan berteman sejak kecil. Ong Chin Hock alias Ah Hock masih bujang, tinggal di New Upper Changi Road, anak buruh bangunan. Ia putus sekolah, sehingga terpaksa mengikuti jejak bapaknya sebagai kuli bangunan, sebelum akhirnya masuk wajib militer.

Sedangkan Yeo Ching Boon, dikenal juga sebagai Ah Pui atau Freddy, masih tinggal bersama orangtuanya. Anak tertua dari empat bersaudara ini pernah dikeluarkan dari sekolah karena berkelahi. Pernah juga bekerja sebagai penjaga gudang pada sebuah perusahaan tekstil, namun dikeluarkan, lagi-lagi karena berkelahi.

Hwee Kuan alias Ah Kuan lain lagi. Ia sempat menjadi anggota kelompok Sio Kun Tong, yang kerap melakukan aksi pencopetan di sekitar Angullia Road. Tahun 1976, Kuan dan teman-temannya ditangkap polisi, sehabis merampok turis berkewarganegaraan Malaysia. Bulan April 1977, ia masuk rumah rehabilitasi, karena kecanduan narkoba.

Keesokan harinya, tiga sekawan bertemu lagi di KAC. Sorenya, para pengangguran banyak acara ini melanjutkan aktivitasnya dengan menonton pertandingan sepakbola di bekas Sekolah Dasar mereka, Tu Li. Di salah satu sudut sekolah inilah, mereka kembali mendiskusikan niat jahatnya.

“Sebagai modal, kita juga butuh senjata tajam. Aku sarankan pakai pencungkil es saja,” ujar Yeo.

“Aku setuju. Tapi kita juga perlu pisau,” balas Kuan.

“Duitnya dari mana buat beli pisau?” sergah Yeo.

Hock membuka jam yang melingkar di tangannya. “Jual saja ini, pakai untuk membeli pisau,” katanya.

Yeo tertegun sebentar, lalu mengangguk dan tersenyum. “Begini kira-kira skenarionya. Keculai Kuan, kita semua memakai seragam pakaian wajib militer. Dengan begitu, akan lebih mudah mendekati pos penjagaan.”

“Menurutku, kita sebaiknya jangan pakai seragam,” komentar Hock. “Di sana kan ada asrama. Kalau terlalu mencolok, berbahaya. Jika terjadi sesuatu, polisi-polisi yang tidak sedang bertugas bisa menyulitkan kita.”

“Jadi, gimana dong?” nada bicara Yeo terdengar putus asa.

Lagi-lagi mereka saling melontar ide. Namun dari beberapa ide yang dibahas, tak satu pun disetujui secara aklamasi. Sampai akhirnya, Yeo mengetuk palu.”

“Oke, apapun recananya, tak boleh terlalu mencolok. Yang penting kita setuju untuk segera melaksanakan rencana ini.” Anggota tiga sekawan yang lain hanya manggutmanggut.

Yeo pun melanjutkan, “Kita akan mulai bergerak jam dua dinihari, dua hari dari sekarang. Setuju?”

Hock dan Kuan mengangguk.

Bajak taksi

Dua hari kemudian, persisnya sore menjelang malam, tiga sekawan seperti biasanya berkumpul di KAC. Yeo sempat main biliar dengan sejumlah temannya, sampai sekitar pukul 21.00. Setelah itu, Yeo pergi ke sebuah kawasan pertokoan, untuk menjual jam tangan Hock, sekalian membeli dua buah pisau dapur.

“Jam-jam segini banyak patroli polisi berkeliaran. Enggak aman membawa-bawa senjata tajam. Mending pisau-pisau ini disimpan di rumahku dulu,” tegas Yeo. Setelah menyimpan pisau, Yeo tak langsung keluar. Ia memotong sebuah tali terbuat dari nilon menjadi empat bagian. Cukup untuk mengikat tangan, kaki, atau menjerat leher. Lalu memasukkan tali-tali tadi dan alat pencungkil es ke dalam travel bag kecil kepunyaan adiknya.

Jam dinding menunjukkan angka 10, masih empat jam lagi dari jadwal yang mereka rencanakan.

“Aku masih butuh duit buat transportasi,” bilang Yeo memecah kesunyian.

“Jangan khawatir, aku punya seorang teman yang bisa dipinjami uang,” tanggap Hock. Ditemani Kuan, Hock kemudian berangkat menuju rumah temannya di Lorong Koo. Ketiganya berjanji bertemu kembali pada pukul 11.45 di sekitar Kallang Bahru. Namun saat bertemu kembali, Hock ternyata datang dengan tangan hampa. Hanya Yeo berhasil meminjam Sin 10 dolar dari seorang teman.

Sebagian uang itu mereka habiskan untuk makan dan minum di sebuah kafe. Setelah kenyang, Yeo menuturkan rincian rencananya. “Kita akan beroperasi dari atas taksi. Di tengah jalan, kita bajak taksinya. Hock lalu mengambil alih kemudi, sedangkan Kuan duduk di kursi belakang, pura-pura mabuk. Aku sendiri, keluar taksi dan pura-pura minta bantuan dari polisi di pos jaga. Setelah penjaga mendekat, aku akan mendorongnya masuk taksi, kemudian kita culik dan rampa senjatanya. Bagaimana?”

“Tapi jangan biarkan polisi dan sopir taksinya lolos begitu saja,” timpal Kuan. “Kamu ‘kan tahu, aku punya catatan di kantor polisi. Kalau sopir taksi dan penjaga mengenali ciri-ciriku, kita akan langsung diciduk.”

“Baiklah, kita main aman. Keduanya harus mati. Setuju?” usul Yeo.

Kuan tampak senang, sedangkan Hock tak berkomentar sepatah kata pun. Tepat pukul 01.30, Yeo menyempatkan diri pulang ke flatnya, mengganti pakaian dengan t-shirt merah dan celana biru gelap. Ia memutuskan tidak memakai pakaian seragam wajib militer, seperti rencana semula. Kemudian keluar dengan menenteng travel bag, dengan pencungkil es terselip di pinggang.

“Semua siap?” tanya Yeo.

“Siap,” sahut Kuan dan Hock serentak.

Terjerembab di got

Chew Theng Hin, sopir sekaligus pemilik taksi, tentu tak menyadari nyawanya sedang di ujung tanduk. Jarang-jarang jam segini ia masih berada di belakang kemudi. Biasanya ia sudah pulang ke rumahnya di Selegie House. Namun entah mengapa, pagi itu ia masih ingin berputar-putar mencari penumpang. Hatinya begitu gembira, ketika melihat tiga pemuda melambaikan tangan, menyetop taksinya. Meski sudah berusia 60 tahun, lelaki berambut pendek ini masih kelihatan energik, setidaknya jika dibandingkan dengan orangtua seusianya. Dengan tenang, Chew Theng Hin membuka pintu depan, mempersilakan penumpang nomor satu masuk. Penumpang nomor dua dan nomor tiga duduk di kursi belakang. Penumpang nomor satu dengan dingin berkata, “Asrama polisi Mount Vernon!”

Tak sedikitpun terbersit kecurigaan dalam hati Chew. Ya, siapa curiga, jika penumpangnya bertujuan ke kantor polisi? Kalau bukan penegak hukum, pasti korban kejahatan yang hendak melaporkan kemalangannya. Chew yang sudah hafal kawasan itu, segera meluncur melewati Jln. Bendemeer, lalu ke Jln. Aljunied. Saat mendekati Police Reserve Unit (PRU) Mount Vernon, penumpang nomor satu meminta Chew belok kiri, ke arah gerbang belakang Mount Vernon yang selalu gelap gulita. Chew mulai menduga-duga, hendak ke mana sebenarnya tujuan tiga orang ditaksinya. Akhirnya, ketika taksi hampir sampai gerbang belakang PRU Mount Vernon, penumpang nomor satu menukas cepat, “Berhenti!” Chew pun menginjak pedal rem.

Saat itulah, tiba-tiba penumpang nomor dua menempelkan pisau di leher Chew. Lelaki tua itu dapat melihat kilatan dan merasakan dinginnya senjata tajam pengiris daging dan sayuran tersebut. Setelah itu, penumpang nomor satu menutup mulut Chew dengan kain. Sambil memamerkan pencungkil es, ia berkata, “Jangan cobacoba melawan atau membuat gaduh.” Ia lalu mengambil tali dan mengikat tangan Chew erat-erat.

Sampai di sini, Chew mulai sadar, penumpangnya pagi itu bukan manusia baik-baik. Ia juga mulai punya firasat, sesuatu yang sangat buruk bakal menimpa dirinya. Sejurus kemudian, penumpang nomor tiga turun dari mobil, berjalan ke depan kendaraan, kemudian membuka pintu tempat Chew disandera. “Turun!” bentaknya. Chew merasa, ini baru awal dari perlakuan buruk yang bakal segera diterimanya. Instingnya berkata, meski menuruti semua perintah mereka, belum tentu ia akan dilepas begitu saja.

Akhirnya ia memutuskan memberikan perlawanan. Namun gerakan spontan Chew tak banyak menolong. Penumpang nomor satu mendorongnya dengan bahu, sedangkan penumpang nomor tiga mempermainkan badan Chew dengan lutut.

Breppp! Sesuatu yang mengerikan terjadi. Penumpang nomor dua menusukkan pisau ke perut sang sopir taksi malang. Chew tersungkur di selokan, sembari merintih menahan sakit.

Penumpang nomor tiga segera duduk di depan kemudi. Taksi baru saja hendak tancap gas, ketika tiga penumpang yang sudah dikuasai nafsu setan itu melihat tubuh Chew merangkak naik dari selokan. “Dia masih hidup,” teriak salah satu penumpang. Penumpang nomor satu dan penumpang nomor dua spontan turun dari mobil, dan tanpa ba bi bu menghujamkan pencungkil es dan pisau dapur ke leher Chew.

Dalam tempo sekejap, Chew terguling, kembali masuk got, tapi tubuhnya tampak masih bergerak-gerak. Tanpa membuang waktu, penumpang nomor satu dan penumpang nomor dua menghampiri lelaki tua yang sedang meregang nyawa itu. Secara bersamaan, mereka menusukkan pisau dan pencungkil es ke daerah vital sopir malang. Brepp! Kali ini Chew tak lagi bergerak.

Pagi itu, nyawa seorang kakek tak berdosa lenyap sia-sia di tangan Yeo, penumpang nomor satu, Kuan si penumpang nomor dua dan Hock, penumpang nomor tiga. Sebaliknya, dengan pandangan nanar, tiga sekawan itu malah bertukar kegembiraan. Rencana pertama sukses terlaksana. Sasaran pembantaian berikutnya, bakal menyusul. Setelah Hock mengarahkan taksi rampasan mereka ke pos penjagaan, persis di depan pintu gerbang PRU Mount Vernon.

Telunjuk terpotong

Mayat Lee Kim Lai - Terbunuh 25 April 1978

Mayat Lee Kim Lai - Terbunuh 25 April 1978

Lee Kim Lai masih sangat muda ketika mendaftar wajib militer. Usianya baru delapan belas tahun. Ia berasal dari keluarga baik-baik, anak kedua dari empat bersaudara. Sebagai polisi wajib militer, ia tak boleh memilah-milih tempat berdinas. Itu sebabnya, dia bahagia saja saat ditempatkan di Mount Vernon. Pagi itu, dia baru saja menggantikan Koh Kah Kway, rekannya yang telah bertugas sejak pukul 13.00. Seragam tebal tak sanggup melindungi Kim dari serangan dingin yang menusuk. Meski begitu, ia tetap berusaha menunaikan tugas dengan penuh rasa tanggungjawab. Baru beberapa menit menjaga gerbang, ia melihat sebuah taksi kuning melintas di depan pos jaga. Dari tempatnya berdiri, Kim dapat melihat dengan jelas seorang pemuda keluar dari pintu depan, lalu menghampirinya.

Pemuda itu, Yeo, menunjukkan kartu keterangan wajib militernya. Kim memperhatikan dengan seksama kartu yang ditunjukkan Yeo. Sesekali, matanya melirik ke taksi kuning yang mesinnya masih hidup. “Jadi, kamu wamil yang tinggal di asrama ini?” tanya Kim ramah.

“Betul sekali. Boleh aku minta tolong untuk memapah kawanku yang mabuk? Badannya berat sekali. Dia sekarang tergeletak di kursi belakang taksi,” sambung Yeo, sembari menunjuk ke arah taksi kuning.

“Dia tinggal di asrama ini juga?”

“Betul.”

“Memangnya kalian dari mana?” tanya Kim, mencoba tetap ramah.

“Kami berdua baru saja jalan-jalan dan bertemu beberapa teman. Tapi dasar bandel, dia kelihatannya minum terlalu banyak. Akhirnya, seperti kamu lihat, malah menyusahkan teman,” bohong Yeo.

Kim calon polisi yang baik. Ia merasa sebagai seorang wajib militer, tugasnya tak hanya sebatas perintah yang diberikan komandan, tapi juga membantu sesama yang membutuhkan pertolongan. Apalagi yang membutuhkan pertolongan sesama penghuni asrama. Itu sebabnya, dengan senang hati ia berjalan menuju pintu belakang taksi. Saat pintu dibuka, ia memang mendapati seorang lelaki tengah berbaring di kursi.

Namun ia terkejut saat Yeo tiba-tiba mendorongnya masuk ke dalam taksi. Lebih terkejut lagi setelah tahu, pemuda yang sebelumnya berbaring di kursi, Kuan, ternyata tidak mabuk sama sekali. Kim mencoba melakukan perlawanan. Tapi dari belakang, Yeo dengan pencungkil esnya langsung mengancam. “Tetap di dalam dan jangan coba-coba melawan,” bisiknya tepat di telinga Kim.

Setelah menutup pintu, Yeo bergegas ke pintu depan. Saat itu, ia sempat melihat beberapa orang di lantai satu dan lantai dua markas polisi Mount Vernon memperhatikannya. Untuk menghindari kecurigaan, Yeo mempercepat langkahnya.

“Cepat kabur! Ada beberapa polisi di atas sana sedang memperhatikan kita,” perintahnya pada pada Hock. Sedetik kemudian, Hock sudah melarikan taksinya menuju arah Jln. Aljunied. Sementara di kursi belakang, Kuan masih setia mengancam Lee dengan pisau dapur. “Mana pisau satunya lagi?” teriak Yeo pada Kuan. Kuan menunjuk sela di antara dua kursi depan.

“Aku engak punya uang. Benar-benar enggak punya uang!” pekik Lee. Ia tampak begitu ketakutan.

Kuan mulai menempelkan pisau di leher Lee. Namun tanpa diduga, aksi Kuan saat mengambil pistol dari pinggang Kim ternyata mendapat perlawanan. Dalam pergumulan, pistol sempat jatuh. Yeo yang bearda di kursi depan langsung membantu Kuan. Ia berbalik badan, seraya menghujamkan pisaunya beberapa kali ke leher Lee. Begitu membabibutanya aksi Yeo, sampai-sampai jari telunjuk Kuan ikut terpotong.

Tubuh Kim sendiri langsung jatuh menghujam jok. Darah segar mengotori kursi belakang taksi. Termasuk kaos dan celana yang dikenakan Kuan.

“Kita harus mengamankan senjatanya. Berikan pisaumu,” perintah Yeo pada Kuan.

Lima menit kemudian, mereka telah sampai di kawasan Kallang Bahru, ketika Yeo minta Hock menghentikan taksi.

“Pui,” kata Kuan pada Yeo. “Kausku berlumuran darah.”

“Bersembunyilah di belakang semak-semak,” lagi-lagi Yeo memberi perintah. “Aku akan mampir ke flat dan membawakanmu pakaian bersih.”

Yeo lalu berlari menuju flat. Sepuluh kmenit kemudian, ia sudah kembali ke semaksemak tempat Kuan bersembunyi, dengan membawa tas plastik berisi celana panjang biru gelap dan t-shirt warna putih. Kuan pun berganti pakaian, memasukkan pakaiannya yang berlumuran darah ke dalam tas plastik. Tapi ketika mereka bersiap hendak meninggalkan semak-semak, terjadi sesuatu yang sama sekali di luar perhitungan.

Kantung plastik ditemukan

Malam itu, detektif Siew Man Seng baru saja pulang berdinas. Polisi yang sudah bertugas selama 11 tahun itu berkantor di Kantor Polisi Beach Road. Ayah seorang anak perempuan dan seorang istri ini sudah tinggal di Geylang Bahru selama sekitar empat setengah tahun. Jadi, dia tahu betul daerah tersebut. Pagi buta itu, hatinya sedang berbunga-bunga, karena baru saja sukses menangkap tersangka kasus penipuan sejam sebelumnya.

Di persimpangan jalan Geylang Baru dan Kallang Bahru, perjalanannya terhalang lampu merah. Saat menunggu lampu hijau, sepintas dia melihat seseorang berjalan di belakang mobilnya, sambil menenteng bungkusan plastik. Lampu kembali hijau. Man Seng pun belok kiri, menuju arah Geylang Bahru. Namun dari balik spion ia sempat memperhatikan, lelaki yang menyeberang jalan barusan ternyata menghilang di sebuah jalan buntu.

Nalurinya sebagai detektif mencuat. Bertahun-tahun dia bergaul akrab dengan dunia kejahatan dan berbagai tipu muslihatnya. Tingkah laku lelaki tadi membuat Man Seng penasaran. Ia segera berbalik arah, mendekati jalan buntu. Dari kejahuhan dia melihat sebuah taksi kuning dengan mesin masih menyala. Tak jauh dari taksi, terhampar semak-semak. Lagi-lagi, insting polisinya memaksa Man Seng memeriksa lokasi di sekitarnya.

Mendekati semak-semak, ia melihat dua orang pemuda, Yeo Ching Boon dan Ong Hwee Kuan. “Sedang apa kalian?” teriak Man Seng, benar-benar memecah kesunyian.

Yeo dan Kuan tampak gugup. Mereka punya feeling, orang yang dihadapinya seorang polisi. Dalam sekejap, mereka mengambil keputusan untuk mengambil langkah seribu.

Yeo yang lebih tahu medan, melilih kabur ke arah pertokoan. Sedangkan Kuan menuju blok-blok apartemen di sekitarnya. Namun malang buat Kuan, dia tidak hanya berhadapan dengan gelapnya malam, tapi juga medan yang sama sekali belum dikenal. Begitu paniknya, Kuan sampai jatuh, bangun dan jatuh lagi. Kini di depannya terbentang semak belukar. Ia tahu, jika terus lari, lambat laun pasti akan tertangkap. Akhirnya ia memutuskan bersembunyi di salah satu semak.

Namun Man Seng bukan polisi ingusan yang gampang dikelabui. Di depan semaksemak itu ia berhenti. Kecurigaannya memuncak ketika melihat jejak kaki, tak jauh dari salah satu semak. Dengan langkah pasti ia mendekat, mengeluarkan pistol dari sarungnya dan membidik semak di depannya. “Cepat keluar!” Kuan pun keluar, masih dengan mata nanar. Meski sempat memberikan perlawanan ketika hendak diborgol, pemuda putus sekolah itu akhirnya tak beradaya di tangan Man Seng.

“Mana tasnya?” tanya Man Seng.

“Aku buang saat lari tadi.”

“Apa isi tasnya?”

“Sisir,” jawan Kuan sekenanya.

“Tadinya kami mau merampok Anda. Tapi begitu tahu Anda polisi, kami mengurungkan niat tadi.”

“Siapa nama temanmu?”

“Ah Seng.”

Sekilas, Man Seng melihat noda darah di kaus yang kenakan Kuan, meskipun ia baru saja berganti baju.

“Noda darah siapa di kausmu?” Kuan berpikir, mencari alasan untuk berkelit.

Akhirnya ia menunjukkan jari telunjuknya yang beradrah-darah. “Sebelum Anda datang, saya berusaha memecahkan sebuah botol, agar bisa dipakai sebagai senjata. Tapi karena ceroboh, botol tadi malah melukai jari telunjuk saya,” Kuan berkilah.

Ia terus berusaha mencari tas yang dibuang Yeo dan Kuan. Karena tak memungkinkan melakukan pencarian sendirian, Man Seng akhirnya memutuskan membawa Kuan ke kantor polisi untuk diinterogasi. Namun sebelum masuk mobil, Kuan sempat minta. “Aku haus sekali. Boleh minta air?” katanya mencoba mengundang iba. Sebelum Man Seng bereaksi, Kuan telah melangkah menuju sebuah keran, tak jauh dari semak-semak.

Di kantor polisi Beach Road, Man Seng menceritakan apa yang dilihatnya pada Inspektur Polisi Poh Keng How. Tak lama kemudian, tersebar berita penemuan mayat seorang polisi, di dalam taksi kuning, tak jauh dari tempat Man Seng memergoki Yeo dan Kuan. Satuan polisi khusus pun segera segera diterjunkan. Mereka bergerak cepat dengan segera menginterogasi Kuan. Namun mereka cukup kesulitan mengorek data dari pemuda lajang tersebut.

Berbagai cara telah dilakukan, tapi Kuan lebih memilih tutup mulut. Ia juga menolak disangkutpautkan dengan kasus pembunuhan kejam terhadap sang polisi wamil. Beruntung, waktu tampaknya berpihak pada para detektif. Beberapa jam kemudian, mayat sopir taksi malang korban keganasan tiga sekawan, Chew Theng Hin, berhasil ditemukan.

Hasil penyisiran di sekitar lokasi kejahatan juga membuahkan hasil menggembirakan. Kantung plastik tempat Yeo dan Kuan menyimpan pakaian penuh noda darah misalnya, berhasil dilacak keberadaannya. Kali ini, Kuan tak dapat mengelak lagi, terlebih setelah Ong Hwee Huat, adiknya, mengakui pakaian yang ditemukan memang milik Kuan. Yeo dan Hock pun akhirnya ditangkap, berdasarkan pengakuan Kuan.

“Beruntung”, tiga sekawan yang sudah kerasukan setan ini tak sempat melanjutkan aksinya. Jika mereka sempat memanfaatkan senjata yang berhasil mereka rebut dari Mount Vernon, apalagi menjalankan aksi perampokan, korban kebrutalan mereka pasti bakal lebih heboh dari dua nyawa sia-sia yang telah ditemukan. sampai kini, tiga sekawan yang akhirnya dihukum mati ini dikenal sebagai salah satu pelaku kejahatan paling kejam di Singapura.

(Kisah Nyata/Nicky Moey/Icul) – Kumpulan Cerita Misteri Majalah Intisari

Tautan Luar :

http://en.wikipedia.org/wiki/Lee_Kim_Lai

  1. Excellent post. I definitely love this site.
    Thanks!

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: