Di Balik Dinding Kampus

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Manusia memang tak pernah bisa menduga-duga peristiwa yang bakal menimpanya. Uniknya pula, di balik peristiwa yang tampaknya membahagiakan, terkadang tersembunyi masalah pelik yang siap menghadang. Bagaimanapun, kebaikan dan kebenaran tetap harus ditegakkan.

Demikian pula nasib Richard Macris (19), mahasiswa New York University (NYU). Musim semi tahun 1977 ia serasa mendapat durian runtuh ketika terpilih menjadi asisten di laboratorium Dr. John Buettner-Janush, ketua jurusan antropologi. Ia memang sangat bangga karena untuk bisa bergabung dalam tim BJ, begitu ilmuwan terkenal itu acap disebut, harus melewati serangkaian tes yang bahkan lebih sulit ketimbang ujian tulis formal di sekolah.

Tentang Dr. John Buettner-Janush, bisa dilihat di Wikipedia : http://en.wikipedia.org/wiki/John_Buettner-Janusch. Meninggal tanggal 2 Juli 1992 karena Pneumonia (sumber : http://www.nytimes.com/1992/07/04/nyregion/john-buettner-janusch-67-dies-nyu-professor-poisoned-candy.html)

Macris dengan penuh semangat melakukan tugasnya – menganalisis sampel-sampel darah. BJ amat dikenal di kalangan ilmuwan, terutama karena sebuah proyek penelitian beberapa tahun sebelumnya. Penelitian biologis itu mampu menunjukkan hubungan antara protein darah pada lemur dengan kelompok kera pada tingkat yang lebih tinggi, misalnya gorila. Macris yakin, tugasnya kini berkaitan dengan penelitian BJ yang sedang tertarik membandingkan faktor darah antara manusia dengan monyet.

BJ meraih gelar B.A., B.S., dan M.A. dari University of Chicago, sedangkan Ph.D-nya dari University of Michigan. Pengalaman mengajar didapat dengan memberikan kuliah di Yale selama tujuh tahun. Pada masa-masa itu ia menulis buku teks antropologi yang amat terkenal, The Origins of Man (http://www.amazon.com/Origins-Man-John-Buettner-Janush/dp/B001KRUPXO).

Kemudian ia pindah ke Duke University di North Carolina. Di sanalah ia melakukan percobaan unik tentang hubungan darah antara lemur, monyet, dan manusia. Penelitian ini, menurut dia, bakal menjadi kunci jawaban tentang evolusi.

Pada 1973, di usia 49 tahun, BJ sudah menjadi antropolog terkemuka, bukan hanya di AS namun juga di dunia. Dana penelitian dari National Science Foundation (NSF) secara teratur mengalir deras. Dengan catatan akademis dan sejarah karier yang meyakinkan itulah BJ dianggap cukup pantas untuk “dibajak” oleh NYU. Tahun itu, ia rela meninggalkan Duke gara-gara iming-iming fasilitas penelitian yang baru dan mewah dengan nilai tak kurang dari AS $ 200.000.

Lain cerita dengan Macris, anak keluarga Yunani ortodoks. Berasal dari kalangan “biasa-biasa” saja, orang tuanya harus bekerja keras untuk dapat mengirimkannya ke perguruan tinggi. Syukurlah, melihat prestasinya mereka merasa pengorbanan itu tidak sia-sia. Apalagi kini di laboratorium BJ, Macris optimis akan lebih mudah mendapatkan beasiswa untuk meringankan beban orang tua.

Rumor aneh

Sayang, tak lama setelah bergabung dalam tim BJ, ia mendengar gosip yang mengganggu. Sejumlah asisten yang telah lama bekerja di situ berbisik, “Sebenarnya BJ sama sekali tidak melakukan penelitian pada lemur.” Lalu apa?

Yang lebih membuatnya miris sekaligus penasaran, salah seorang mengingatkannya untuk selalu mencuci tangan bersih-bersih seusai bekerja di lab. “Materi yang kamu pegang bisa membuatmu gila!” kata James, seorang asisten, dengan wajah serius.

Meski awalnya tidak serius menanggapi, lama-kelamaan Macris terpengaruh juga. Gara-garanya, ia mengamati memang ada beberapa hal mencurigakan. Misalnya saja beberapa kali ia melihat sejumlah mantan murid BJ, yang sudah lama lulus, datang berkunjung ke lab pada waktu yang tidak lazim, yakni malam hari. Perbincangan mereka dengan BJ pun dilakukan dengan berbisik-bisik.

Sampai suatu kali BJ meminta Macris datang pada hari Sabtu. Begitu ia tiba, BJ segera menutup semua pintu untuk pengamanan. Ia diberi tahu, mereka akan membuat asam anasetil antranilat, calon LSD.

Kecurigaannya mulai tumbuh. Jangan-jangan rumor itu benar. Karena penasaran, awal Februari 1979 Macris memberanikan diri bertanya kepada BJ apa sebenarnya yang sedang ia kerjakan.

“Membuat obat saraf untuk lemur,” jawab BJ enteng.

“Obat saraf seperti itu ‘kan sudah tersedia di pasar?”

“Benar, tapi obat yang diperdagangkan biasanya tidak cukup murni.”

Masuk akal juga, tetapi bisa juga rumor itu benar. Macris memutuskan untuk bertindak. Sadar tidak mungkin bertindak sendiri, ia mencari orang yang tepat untuk berkonsultasi. Pilihannya jatuh pada Dr. Clifford Jolly, antropolog yang bekerja di lab yang bertetangga dengan lab mereka.

Dr. Clifford J Jolly

Dr. Clifford J Jolly

Jolly tampak kaget mendengarkan penuturan Macris. Meski begitu, Jolly mencoba tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.

“Yang kamu lakukan cukup berisiko. Jika yang kamu katakan benar, berarti BJ telah melanggar hukum. Ia akan menghadapi masalah besar. Sebaliknya, bila kecurigaan itu tidak benar, kamu yang akan menghadapi masalah besar,” tutur Jolly mengingatkan.

Jolly menasihati Macris untuk sementara waktu menyimpan semua kecurigaan itu.

“Cobalah membuat catatan tentang semua percobaan yang kalian lakukan di lab,” lanjut Jolly sambil berjanji akan membantu mencari bukti.

Dulu Jolly juga pengagum berat BJ. Pun pernah menjadi anggota timnya. Bahkan kesertaan dalam tim BJ itulah yang membawanya masuk ke dalam NYU. Jelas Jolly menyegani mantan bosnya, tapi beberapa waktu lalu ia merasakan ada yang aneh dengan BJ, meski tidak menemukan apa penyebabnya.

Semua bermula pada musim dingin 1978, ketika NSF tanpa dinyana-nyana menolak permintaan bantuan dana BJ. Menurut pengakuan BJ pada Jolly, ia tidak khawatir karena tahu banyak cara lain untuk mendapatkan dana. Semula Jolly tidak terlalu memikirkan ucapan itu, yang seketika teringat kembali setelah Macris menyampaikan kecurigaannya.

Detektif amatir

Selama beberapa bulan berikutnya, Jolly berperilaku bak detektif amatir. Di malam hari, manakala asisten labnya sudah pulang, ia mengendap-endap ke dalam lab BJ untuk jeprat-jepret memotret situasi di dalamnya. Ia juga mengacak-acak keranjang sampah, melacak catatan yang dibuang para asisten lab. Siapa tahu ada yang berguna. Selain itu, dua minggu sekali ia mengambil sampel bahan kimia dari labu Erlenmeyer dan vial. Semua barang temuannya itu disimpan rapi di rak buku di rumahnya.

Begitu jumlahnya dirasa cukup, Jolly menyerahkan sampel bahan kimia itu pada Drug Enforcement Agency (DEA), lembaga pengawasan obat tingkat federal. Dalam waktu singkat DEA, yang sengaja tidak diberi tahu dari mana asal bahan-bahan kimia itu, memberikan laporan bahwa salah satu sampel adalah metakualon – yang dikenal sebagai Quaalude – obat terlarang.

Berbekal laporan itu Jolly mengajak Macris menemui John C. Sawhill, Rektor NYU, untuk melaporkan penemuan mereka. Masih dengan setengah terkejut, Sawhill segera menghubungi kantor kejaksaan.

Esok malamnya diam-diam – tentu dengan seizin NYU – beberapa anggota DEA memeriksa lab BJ. Setiap peralatan dan sekian banyak bahan kimia tak ada yang luput dari pengamatan mereka. Bahan kimia itu segera dianalisis. Yang ditemukan antara lain LSD, metakualon, juga kokain sintetis.

Dengan bukti tersebut kejaksaan memerintahkan untuk dijalankannya operasi penyelidikan rahasia. Dalam operasi itu bukan hanya anggota DEA yang bergerak, tetapi para asisten lab BJ juga dilibatkan. Sebagian besar dengan sukarela, meski ada juga yang harus dengan dibujuk-bujuk. Umumnya yang dengan cepat menerima mempunyai dua alasan. Bila bukan karena tanggung jawab moral, tentu karena mereka tidak mau terseret dalam kasus itu.

Mereka diminta memperhatikan setiap ucapan BJ. Bahkan beberapa orang diperlengkapi dengan alat perekam tersembunyi untuk merekam pembicaraan dengan BJ.

Ilmuwan kaya

Mula-mula operasi itu berjalan lancar. BJ tidak sadar tengah diamati. Sampai pada suatu malam, Macris dan Jolly membiarkan petugas DEA masuk melalui pintu. Petugas itu sengaja memecah kaca pintu lab untuk memberikan kesan perampokan. Baru esok paginya BJ mengetahui “perampokan” itu. Namun, kedongkolannya hanya berlangsung sesaat. Otaknya yang biasa berpikir logis segera menduga ada sesuatu yang tidak beres. Menurut dia, itu bukan sembarang perampokan.

Kecurigaan itu sempat ditangkap Macris, karena seminggu kemudian ia bertanya pada Macris, “Ada seseorang yang telah mengadukan diriku. Tapi siapa dia?”

Prasangka serupa diucapkannya pula pada Danny Cornyetz, mahasiswa yang menjabat direktur lab. “Aku tahu ada yang tidak wajar dengan perampokan itu, tapi aku tidak tahu siapa informan itu!” seru BJ marah.

Sebagai orang yang menuntut kesetiaan, ia tidak bisa mentoleransi asisten yang mengkhianati dirinya. Bukankah selama ini ia telah memberi mereka kesempatan dan kebaikan hati?

Kabarnya, BJ juga menjalankan labnya dengan otoriter. Bahkan, ada yang menjulukinya serupa diktator. Asistennya harus memusuhi juga semua musuhnya.

Tuntutan itu dipatuhi oleh hampir sebagian besar muridnya. “Kami tidak berani mengambil mata kuliah yang pengajarnya tidak disukai BJ,” kata salah seorang mahasiswa.

“Kalau kami tetap mengikuti mata kuliah mereka tanpa mengindahkan peringatan BJ, kami tidak bakal lulus. Celakanya, salah satu profesor yang dimusuhi BJ mengepalai sebuah jurusan dan berwenang mencairkan dana beasiswa yang jumlahnya ribuan dolar. Tak satu pun dari kami mampu mendapatkannya,” keluh yang lain.

Posisi BJ makin tersudut. Sosoknya sebagai ilmuwan juga makin kabur bila menyimak kesaksian teman-teman akademisnya.

Ia dikenal berselera tinggi, senang barang-barang mahal. Di balik undangan makan malam untuk para kenalannya, sepertinya tersimpan motif lain juga, pamer. Memang, apartemennya yang luas di Washington Square dipenuhi keramik dan benda pajangan mahal.

Meski istrinya, Vina Mallowitz, pakar biokimia, meninggal tahun 1977, BJ tak begitu kesepian. Pergaulannya luas. Selain dari kalangan ilmuwan, ia punya banyak kawan dari kalangan seniman, mulai pemain drama, novelis, dan pelukis.

Ia memang sering mengadakan pesta. Pestanya pun bukan sembarangan, tetapi pesta gala, dengan hidangan didatangkan dari katering terkenal dan pelayan berseragam.

Betapapun, selain hidup mewah ia punya kebiasaan aneh. BJ senang menarik perhatian dengan cara mengejek atau menyakiti orang lain.

Bila datang surat yang salah mengeja namanya, atau ada bagian dari isinya yang dianggapnya kurang santun, ia bisa seketika mengirimkan kembali surat itu disertai sejumlah koreksi disertai catatan tinta merah “Ganti surat ini! Gunakan kaidah bahasa yang benar!”

Kebiasaan buruk itu memakan korban pula. Sebuah pengalaman pahit dituturkan oleh sesama rekan profesor yang memilih keluar dari NYU lalu pindah ke University of Maryland. Alasannya, “Tidak hanya menyemprot saya di hadapan rekan seprofesi, BJ juga tega mempermalukan saya di depan para mahasiswa.”

Kehilangan dana

Itulah kenyataannya. BJ telah membuat banyak orang sakit hati. Tak heran apabila banyak beredar rumor negatif tentang dirinya. Di antaranya, ada rekan kerja yang menuduhnya telah melakukan plagiat terhadap karya sejumlah muridnya pada saat ia mengajar di Michigan. Untuk kasus ini, pihak universitas di Michigan menolak memberi keterangan.

Ada juga yang mengatakan, ia mengorupsi uang makan dan akomodasi sebuah ekspedisi antropologi. Saat ekspedisi berlangsung, ia masih bertugas di University of Chicago. Namun, tuduhan itu pun tidak pernah ditindak lanjuti.

Ada rumor lain, yang ini lebih serius. Kabarnya, BJ tidak pernah melakukan penelitian. Penelitiannya semasa di Duke sesungguhnya dilakukan oleh sang istri.

Betapapun, lepas dari rumor dan perilaku kasar, BJ tetap dipandang terhormat di kalangan akademisi. Setiap tahun ia makin terkenal dan makin sering menerima bantuan dana penelitian.

Sampai tahun 1977, manakala Dewi Fortuna tak lagi bersamanya. Tahun itu NSF menolak memberikan bantuan penelitian kepadanya. BJ menuduh penolakan itu berdasarkan alasan pribadi, bukan akademis, karena ada bocoran dari orang dalam di NSF yang memberi tahu dia.

Namun, Dr. Nancie Gonzales, direktur program antropologi di NSF saat itu, mengatakan, “Kalau NSF menolak memberikan bantuan, ya selalu hanya berdasarkan satu alasan – karya tersebut kurang tepat mendapat penghargaan ilmiah.” Memang, lab BJ telah dikunjungi oleh tim NSF, proposalnya pun telah diperiksa.

Penolakan itu tentu memberi pukulan berat bagi BJ. Bukan hanya ego, tetapi kepiawaiannya dalam melakukan penelitian serasa turut dilecehkan. Tentu pula kelancaran penelitiannya jadi terganggu. Tanpa bantuan dana mana mungkin ia membeli bahan penelitian dan membayar asisten.

Namun, November tahun yang sama sang profesor yang cerdas ini menemukan solusi. Ia mendirikan perusahaan dengan nama samaran Simian Expansions. Tujuannya, mengumpulkan dana dari kalangan swasta untuk membiayai penelitian atas lemur. Sejak itu, meski tanpa dana dari NYU, lab BJ di NYU tetap aktif, peralatannya lengkap, dan penuh mahasiswa pintar yang ambisius. Beberapa alumnus bahkan bergabung dalam proyek Simian Expansions.

Meski sudah menaruh curiga, BJ terkejut juga tatkala mendapat undangan untuk hadir di pengadilan, di hadapan sejumlah juri atas tuduhan membuat dan memasarkan obat terlarang. Namun, ia masih yakin akan menang. Malah, kalaupun dinyatakan bersalah, ia akan dapat dengan mudah membersihkan nama.

“Pengacaraku mampu mengatasi semua tuntutan yang dapat menghancurkan reputasiku,” katanya yakin pada Macris.

Keyakinan serupa ia ucapkan juga pada Danny Cornyetz, “Mantan dekan fakultas hukum NYU akan segera membereskannya hanya dengan sedikit lobi.”

Agustus 1979, DEA kembali datang ke NYU untuk memeriksa ruang penyimpanan di bawah tanah lab BJ. Di tempat rahasia itu DEA menemukan sejumlah besar obat terlarang. Cuma, penemuan ini tidak dapat dipergunakan di pengadilan, karena ketatnya pemberlakuan hukum pemilikan pribadi.

Dua bulan kemudian ia diajukan ke pengadilan dengan tuntutan telah memproduksi dan memasarkan berbagai obat terlarang serta berkonspirasi untuk mengalangi pemeriksaan pembuatan obat di kampus NYU.

Rekaman

Juli 1980 sidang pengadilan digelar di Pengadilan New York Distrik Selatan.

Yang seru, sebelum sidang dimulai BJ telah menyebarkan dua lembar surat yang menyatakan bahwa dirinya adalah korban serangan pemerintah atas kebebasan akademis. Ia menggambarkan, tindakan DEA menerobos untuk memeriksa lab dan tempat penyimpanan sama dengan kekejian yang berlaku dalam Kristallnacht, yakni malam saat pasukan Hitler menghancurkan harta milik kaum Yahudi di Jerman.

Melalui surat itu juga BJ berusaha meyakinkan rekan-rekannya bahwa tuntutan yang ditimpakan kepadanya sangat tidak masuk akal. Pada intinya, BJ melemparkan isu tentang dilanggarnya hak atas kebebasan bagi para ilmuwan.

Akibatnya, bahkan sebelum sidang berlangsung, di kalangan hadirin sudah terbentuk dua kubu.

“Tak masuk akal! Orang seperti BJ membuat obat terlarang? Untuk apa? Ia tidak butuh uang. Ia amat kaya. Ia juga pasti tahu bila melakukan seperti yang dituntutkan padanya tentu akan membahayakan kariernya di Amerika,” demikian salah satu pendapat.

Sementara itu pendapat di kubu seberang pun tak kalah sengit. Mereka menganggap BJ seorang sosiopat, orang yang tidak memiliki hati nurani.

Sekeras pertentangan di antara penonton, sealot itu pula jalannya sidang pengadilan.

Pembela BJ, Jules Rithholz (55) dengan lantang sekaligus dramatis, bersuara, “Kami tidak menyangkal ia membuat obat terlarang. Namun, bukankah tidak ada larangan membuat obat di dalam laboratorium?”

Obat terlarang buatan BJ dibuat untuk tujuan penelitian yang resmi, lanjutnya. Sang profesor akan memberikan obat itu pada lemur yang pada akhirnya untuk melihat apakah obat saraf dapat mempengaruhi perilaku kelompok primata tertentu. Penelitian semacam itu tentu sangat bermanfaat bagi seluruh umat manusia, Rithholz berargumen.

Mengapa? Apabila perilaku dapat dipengaruhi oleh bahan kimia, berarti perilaku tidak hanya ditentukan oleh garis keturunan, “Kita bakal dapat memperbaiki banyak kesalahan yang dilakukan manusia. Kita dapat mengobati residivis, penjahat kambuhan, lalu membuat mereka menjadi orang baik. Sekali suntik, kita dapat menghapus kejahatan di dunia.”

Dewan juri yang sebagian besar dari kalangan akademis mendengarkan penuturannya dengan saksama.

Kemudian jaksa penuntut menghadirkan para mahasiswa. Mereka tampil dengan caranya masing-masing – ada yang tenang, banyak pula yang canggung dan kikuk.

Beberapa hasil penyelidikan detektif amatir itu gagal. Macris misalnya, tidak hanya mencoba merekam BJ, tapi juga direktur lab Cornyetz. Sayangnya, pertanyaan pancingan Macris yang diajukannya saat mereka berdua berjalan-jalan di Washington Square Park tidak mendapat jawaban seperti diharapkan. Gara-garanya, saat Macris bertanya lewatlah seorang gadis cantik dan seksi dengan rambut model masa kini yang dicat dua warna. Ucapan Cornyetz pun melenceng.

Demikian pula rekaman kaset diajukan oleh mahasiswi bernama Lisa Foreman, yang bekerja di lab tahun 1978. Dengan inisiatifnya sendiri pula ia merekam percakapan dengan Cornyetz. Sayangnya, ia tidak menggunakan kaset baru melainkan kaset bekas yang sudah digunakan untuk mengajar burung kakatuanya berbicara. Maka yang muncul bunyi hiruk pikuk yang memalukan.

Untunglah, ada beberapa orang yang berhasil membuat rekaman yang mampu menunjukkan semua konspirasi tindakan BJ.

Sebuah kaset Macris dengan jelas menampilkan suara BJ, “Danny telah setuju untuk bersaksi dengan menyatakan dirinya yang … em melakukan semua pembuatan obat ini.”

Dalam salah satu kaset terdengar suara Cornyetz bertanya pada BJ, “Mengapa kita yang pertama kali dituntut dalam kasus ini? … Ini kesalahan Bruce!” Bruce Greenfield tercatat sebagai salah satu anggota proyek Simian Expansions.

Jawab BJ, “Ya, ya memang.”

Lanjut Cornyetz, “Mengapa juga ia menyebut dirimu yang melakukan semua hal ini?”

Sahut BJ, “Mengapa … aku begitu tolol?” tapi dengan cepat ia mengucapkan, “Yang penting adalah ada proyek penelitian resmi yang mampu menutupi semua yang kita lakukan.”

Pada kaset lain BJ terdengar mengatakan, “Salah satu cara untuk bisa menyingkap kesalahan kita adalah dengan mencari orang dalam yang mau bersaksi. Untunglah, tak satu pun di antara kita yang bersedia. Kita semua punya komitmen kuat.”

Pada kaset hasil rekaman Profesor Jolly, terdengar BJ menyatakan, tidak khawatir dengan tuntutan yang diajukan karena ia punya teman yang sangat berpengaruh. “Aku kenal baik dekan Fakultas Kedokteran di Harvard,” serunya.

Pada saat semua rekaman diputar, ruang sidang tampak senyap. Semua yang hadir tekun menyimak setiap suara yang muncul.

Lain lagi dengan ekspresi wajah BJ yang tampak berubah-ubah – bingung, kaget, serius, dan lainnya – , begitu mendengarkan semua ucapannya yang tanpa sadar telah direkam oleh asisten dan teman kepercayaannya. Tak heran, pada sekelompok orang sempat terbit perasaan simpati dan iba pada BJ.

Namun, perasaan simpati itu lenyap seketika manakala pada kaset yang lain ia mengucapkan, “Pembelaku siap berhadapan dengan kejaksaan Amerika dan menunjukkan betapa besar jasa-jasaku.” Saat itu tampak betapa BJ mencoba merendahkan hukum.

Posisi BJ makin lemah. Terutama kala Danny Cornyetz bersaksi dengan menirukan ucapan BJ padanya, “Kamu sama tidak bermoralnya dengan kita semua di sini. Aku akan berterus terang bahwa kita semua memang membuat obat terlarang itu di laboratorium!”

Sedangkan asisten administrasi jurusan antropologi bernama Richard Dorfman mengaku, BJ tidak hanya mengaku membuat obat di lab, tapi juga memintanya untuk menjualkan kokain sintetis buatannya.

Dorfman mengaku telah menjual sejumlah kecil kokain seharga AS $ 100. Setelah mengambil komisi sebesar AS $ 20, yang AS $ 80 ia serahkan kepada BJ.

Berkedok penelitian

Pembela BJ tak patah semangat. Untuk menangkis semua tuduhan, ia mengambil sudut pandang berbeda, yakni sang profesor membuat obat terlarang di labnya karena akan diujicobakan pada lemur.

Untuk itu Rithholz mengundang Pat Pronger, petugas pengumpul dana untuk Simian Expansions. Pada bukti berupa lembar kuitansi tertulis sejumlah dana untuk membeli lemur.

Namun, kesaksian Pronger gagal, karena ada yang janggal. Dalam kuitansi disebutkan BJ meminta uang untuk membeli hanya sekitar dua atau tiga ekor lemur. Bukankah obat sebanyak yang ditemukan di gudang bawah tanah terlalu banyak, bila hanya akan digunakan untuk tiga ekor lemur?

Rithholz masih berupaya keras menolong kliennya. Sejumlah orang yang mengenal BJ sebagai lelaki yang jujur dan dapat dipercaya ia undang untuk bersaksi. Kembali usaha Rithholz tak memberikan banyak arti, karena para saksi mengenal BJ terbatas pada waktu silam.

Jurus terakhir Rithholz adalah dengan melemparkan isu bahwa mungkin BJ tidak benar-benar membuat obat terlarang. Obat tersebut ditaruh di lab oleh Profesor Jolly yang sebenarnya iri dan ingin merebut posisi BJ.

Jolly yang kebetulan hadir dalam pengadilan hanya tersenyum mendengar tuduhan baru itu. Bahkan ketika harus memberikan kesaksian pun Jolly tidak merasa terpojok dengan tekanan-tekanan Rithholz. Dengan tenang Jolly mengakui, telah mengorek sampah untuk menemukan sejumlah catatan. Selain itu agar tidak mengundang curiga, Jolly berusaha untuk tidak menyinggung-nyinggung soal pembuatan obat terlarang bila tengah ngobrol dengan BJ.

Setelah sepuluh hari mendengarkan pengakuan saksi, sidang berakhir.

Bukan demi uang?

Lima jam lewat sebelum juri memutuskan Buettner-Janusch bersalah atas dua hal. Pertama, ia membuat sekaligus mengedarkan LSD, metakualon, dan kokain sintetis. Yang kedua adalah berbohong pada penyidik federal.

Buettner-Janusch diganjar hukuman penjara lima tahun. Clifford Jolly masih mengajar di NYU. Richard Dorfman dipecat. Richard Macris pindah jurusan dari antropologi ke administrasi bisnis, sedangkan Danny Cornyetz keluar untuk bekerja di perusahaan kaset yang memasok museum dengan rekaman sastra.

Kasus BJ memang unik. Sampai sekarang orang masih belum mengerti alasan sesungguhnya sang profesor memproduksi obat terlarang. Menurut pandangan Jolly, kesombonganlah yang menuntutnya bertindak diam-diam. Padahal kalau mau terang-terangan mengakui bahwa ia butuh dana, seharusnya ia bisa memperolehnya dengan halal.

Namun, menurut seorang psikolog, tujuan BJ membuat obat terlarang tampaknya bukan melulu karena butuh uang. Di dalam masyarakat ada orang yang meyakini bahwa diri mereka dikaruniai dengan kelebihan, entah keningratan ataukah berupa kepandaian. Mereka merasa ditakdirkan untuk menaklukkan dunia, untuk memerintah sekelompok orang yang bisa diatur, bahkan melanggar hukum yang berlaku bagi masyarakat umum. Orang semacam itu bosan dengan aturan yang biasa. Akhirnya, mereka terkondisi untuk senang memperdayakan masyarakat. Demikian pula BJ, yang tidak puas dengan hal-hal biasa, amat bangga atas kepandaiannya, dan yang akhirnya ketagihan nikmatnya melawan sistem di masyarakat.

Namun, mengapa para mahasiswanya patuh juga kepadanya? Richard Dorfman, asisten yang menjual kokain sintetis, mengaku melakukannya karena terpaksa. Ia tidak ingin dipecat.

Sedangkan menurut seorang profesor antropologi, “Cara yang digunakan BJ hampir sama dengan cara yang dilakukan oleh Hitler. Menyebarkan teror dan ketakutan. Jangan salah, BJ tahu benar karakter Hitler, bukankah ia sering menyinggung nama Hitler tiap kali bercerita? Cara itu dapat disebut taktik Hitlerian.”

Nonfiksi/The Professor and Prostitute/Sht – Kumpulan Cerita Kriminal Majalah Intisari

 

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: