Kekasihnya Tewas Di Jalanan

Pada 29 Juli 1997, suasana gedung pengadilan negeri di Birmingham tampak lebih ramai dari hari biasanya. Puluhan wartawan media cetak maupun elektronik menyemut sejak pagi di depan ruang sidang utama. Siang itu mereka menunggu pembacaan keputusan juri atas kasus Tracie Margurite Andrews yang didakwa membunuh tunangannya, Lee Raymond Harvey. Jarang sekali sebuah kasus pembunuhan sedemikian menyita perhatian pers dan warga Inggris.

Lee Raymond Harvey dan Tracie Andrews

Lee Raymond Harvey dan Tracie Andrews

Butuh tak kurang dari lima jam bagi juri untuk berunding, hingga akhirnya satu per satu terlihat kembali ke ruang sidang. Salah seorang wakil juri maju menyerahkan surat keputusan kepada hakim Buckley.

“Terhadap kasus Tracie Andrews, juri menyatakan terdakwa terbukti bersalah.” Demikian keputusan juri yang dibacakan singkat.

Ekspresi Tracie Andrews saat Marah

Ekspresi Tracie Andrews saat Marah

Mendengar itu, Tracie Andrews kontan berdiri dari tempat duduknya. Ia memprotes juri, sayangnya dengan cara tidak sopan. Maka, meski kata-katanya terdengar jelas, tak ada yang sungguh-sungguh menghiraukannya. Ruang sidang ikut gaduh oleh gumaman pengunjung, hakim pun harus menenangkannya.

“Juri telah memutuskan Anda bersalah dengan bukti-bukti yang kuat. Sesungguhnya, hanya Anda yang tahu apa yang terjadi malam itu, tapi kita dapat melihat akibatnya dahsyat,” kata Hakim Buckley sesaat setelah Tracie dapat menenangkan diri. “Seperti Anda tahu, semua kembali kepada ketentuan hukum. Hukuman untuk Anda penjara seumur hidup.”

Tracie tak bereaksi. Air matanya tak terbendung. Simpati dari banyak orang mulai bangkit, terutama orang yang menontonnya di televisi.

“Aku sudah tahu, mereka akan memutuskan aku bersalah. Tapi sungguh, aku sama sekali tak melakukannya,” kata Tracie kepada pers begitu ia keluar dari ruang sidang.

Selalu tidak akur

Usia Tracie Andrews baru 27 tahun. Ibu seorang putri berusia tujuh tahun itu masih cantik, meski guratan-guratan kedewasaan tetap mudah ditangkap dari sorot matanya.

Sebelum bertemu Lee Harvey, Tracie pernah hidup bersama seorang pria selama beberapa tahun. Tapi sepuluh bulan setelah putrinya lahir, ia meninggalkannya. Tracie tinggal di sebuah flat kecil dan bekerja sebagai penjual produk kecantikan. Sedangkan Lee, sehari-harinya bekerja sebagai sopir bus. Sebagaimana kekasihnya, Lee telah memiliki seorang putra hasil hubungannya semasa berusia belasan tahun. Hingga akhir hayat, hubungan dengan mantan kekasih dan anaknya tetap baik.

Meski pekerja kasar, Lee termasuk pria berwajah tampan. Pada akhir pekan, ia dikenal sering bergaul di klab-klab malam sekitar Birmingham Broad Street. Karena ketampanannya, Lee diketahui punya beberapa teman wanita. Meski sebenarnya justru ia yang lebih sering dikerjain oleh para wanita itu. Jauh di dalam hatinya, Lee mencari wanita untuk dijadikan istri. Saat bertemu Tracie, ia berpikir sudah menemukannya. Sejak pertemuan yang romantis di klab malam Ritzy’s pada 1994, mereka memutuskan tinggal bersama di flat Tracie.

Namun, sejak kebersamaan tanpa ikatan ini, keduanya sering bertengkar. Meski berulang kali rujuk kembali, tak jarang pertengkaran itu membuahkan kerusakan pada perabotan rumah mereka. Tracie pernah melapor ke polisi bahwa Lee telah melempar televisi dan kaset video kepadanya. Puing-puingnya tampak berserakan di depan rumah. Saat itu polisi hanya bisa menasihati mereka.

Sebenarnya, perangai Tracie tak kalah kasar dibandingkan dengan Lee. Dalam penyelidikan polisi, saat masih serumah dengan pasangan terdahulu, Tracie sering mengacungkan pisau saat bertengkar. Polisi mengonfirmasi kabar ini dan dibenarkan mantan kekasihnya. Suatu kali keduanya bertengkar karena Tracie menuduh pasangannya menyetir sambil mabuk.

“Padahal sudah dijelaskan baik-baik, tapi Tracie nekat lari ke dapur dan mengacungkan pisau. Dia hampir saja kehilangan kontrol, untunglah aku segera merebutnya. Saat marah, matanya liar sekali,” jelas pria itu kepada polisi.

Serangan mendadak

Pada malam pembunuhan, 1 Desember 1996, Tracie dan Lee terlihat berada di klab malam di kawasan Marlbrook Inn. Malam belum terlalu larut saat mereka meninggalkan tempat itu. Mereka pergi dengan mengendarai sedan Ford Escort yang dikemudikan Lee.

“Keduanya memang tidak bertengkar, tapi dari sorot matanya mereka terlihat sedang tidak akur,” kata Crigman, jaksa penuntut kasus pembunuhan ini di depan sidang. Penilaian itu berdasarkan penuturan sejumlah saksi di klab malam kepada polisi. Saksi lain, seorang pria, mengutarakan, sekitar pukul 22.30 ia baru saja melangkah meninggalkan rumah teman wanitanya di kawasan Coopers Hill, dekat Alvechurch pinggiran kota Birmingham. Tiba-tiba di kegelapan, ia dikejutkan teriakan memilukan seorang wanita yang memintanya memanggil ambulans.

“Tolong, tolong! Cepat!” Permintaan itu sempat membuatnya panik.

Tanpa memperhatikan sekeliling, pria itu segera kembali ke rumah teman wanitanya dan memintanya menelepon 999. Sang pria segera kembali ke tempat asal jeritan tadi. Di sana ia mendapati seorang wanita muda berdiri di samping mobil.

Pakaiannya penuh darah, tubuhnya tampak gemetar. Di dekatnya, astaga! Sesosok tubuh pria tergelak di jalanan tak bergerak. Darah berceceran di sekitarnya. Saksi sempat menanyakan, kalau-kalau telah terjadi kecelakaan lalu lintas, tapi wanita yang kemudian diketahuinya bernama Tracie Andrews, mengatakan, “Tidak.”

Memang benar, sedari tadi ia tidak mendengar ada kendaraan lewat. Baru setelah beberapa orang berkerumun, Tracie mampu bercerita bahwa dirinya baru saja diserang seseorang.

Berdasarkan penuturan Tracie kepada polisi – yang diulang di pengadilan – malam itu sepulang dari klab malam, ia dan kekasihnya berkendara pulang. Di tengah jalan keduanya tersadar, ada sebuah mobil sedan Ford Sierra berwarna gelap membuntuti mereka. Sempat terjadi kejar-mengejar, sebelum akhirnya mobil itu berhasil menghadang. Seorang pria turun dari kendaraan dan memaki-maki, kemudian menyerang Lee dengan pisau.

“Aku tidak yakin berapa kali dia menusuknya. Saat Lee terjatuh ke aspal, baru aku keluar dari kendaraan,” jelas Tracie.

Dari dalam mobil Tracie melihat pria itu sempat membungkuk di depan Lee, tetapi ia tidak melihat senjatanya. Tak lama kemudian Tracie keluar dan memakinya. Pria itu berbalik kemudian memukulnya begitu keras. Tubuh Tracie terbanting ke jalan. Mata kiri dan hidungnya luka. Akibatnya, ia harus mendapat perawatan selama tiga jam di rumah sakit.

Selebihnya, tak banyak yang bisa diingat malam itu. Tracie hanya mendengar pengemudi mobil berkata kepada penyerang, “Sudah tinggalkan saja, Jez.” Lalu mereka tancap gas.

“Aku mencoba bangkit dan mendekati Lee. Terasa ada yang basah di tubuhnya. Ternyata darah. Dia terdengar mengeluarkan suara aneh, seperti mendengkur. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan saat itu.”

Mencoba bunuh diri

Kasus kekerasan jalanan di daerah sepi Coopers Hill langsung menjadi berita besar di Birmingham, bahkan seluruh Inggris. Bukan hanya karena daerah itu selama ini dikenal cukup aman. Tapi masyarakat bersimpati terhadap kekasih korban, Tracie Andrews.

Tracie sangat pandai mengambil simpati masyarakat lewat media massa. Dengan isak tangis dan cucuran air mata, wajahnya selalu membuat penonton dan pembaca terkesima. Ia bahkan meminta masyarakat ikut membantu menemukan pelaku pembunuhan kekasihnya.

Sebaliknya, polisi merasa kesulitan, karena tidak mendapatkan motif penyerangan. Mereka hanya berspekulasi kasus itu berhubungan dengan bisnis obat terlarang. Sebuah sketsa wajah berdasarkan deskripsi Tracie ikut disebarluaskan media massa. Berdasarkan penyelidikan, para detektif menemukan gambaran lain dari kasus ini.

Beberapa saksi di klab malam Marlbrook Inn menuturkan, malam itu mereka melihat Tracie dan Lee, tapi tidak melihat adanya mobil pembuntut. Kesaksian itu diperkuat penuturan dua akuntan dari Bromsgrove yang malam itu melintas di sekitar TKP.

“Keduanya melihat sedan Escort milik Lee, saat berhenti dan hendak berputar. Jarak mereka terpaut sekitar dua kilometer di belakang, tapi tidak ada mobil lain yang membuntuti. Kesaksian itu dinilai vital karena waktunya tepat, begitu pula lokasinya,” kata Crigman dengan nada meyakinkan di depan juri.

Sejumlah kesaksian inilah yang mengantarkan Tracie menjadi tersangka utama. Namun, informasi itu tak pula membukakan jalan kemudahan bagi polisi untuk menyelesaikannya.

Di mata publik, Tracie adalah korban. Pelbagai reaksi datang dari masyarakat begitu wanita muda ini ditahan. Apalagi penahanan hanya berselang enam hari setelah Tracie didapati mencoba bunuh diri dengan meminum 200 tablet obat tidur.

Pisau lipat

Selubung kasus itu terkuak di pengadilan. Semua tergambar dalam dakwaan yang dibacakan penuntut pada 1 Juli 1997.

Crigman mendakwa, malam itu Lee dan Tracie meninggalkan klab malam bersama. Entah apa sebabnya, di tengah jalan mereka bertengkar. Pada kurun waktu 12 – 15 menit, Lee memukul kekasihnya yang mengakibatkan luka di wajah. Meski keduanya tahu jalan pulang dengan baik, mereka sempat tersasar sampai Coopers Hill.

Di sana keduanya berhenti dan keluar dari kendaraan. “Di sinilah ia mulai melakukan serangan,” kata Crigman menunjuk kepada Tracie. “Korban ditusuk di leher, wajah, belakang kepala, sisi kiri tubuhnya, bahu kiri, dan punggung. Serangan ini terus berlanjut meski korban sudah jatuh. Tusukan baru berhenti setelah kemarahan Tracie mereda.”

Penggambaran Crigman sungguh memilukan seisi ruang sidang. Lee mendapat 30 tusukan dari pisau lipat jenis Swiss Army. Korban tidak mampu bertahan lama karena serangan terarah ke leher, hingga menyebabkan urat nadi di leher robek. Darah muncrat hingga mengenai baju Tracie.

“Korban berusaha lari, tapi ia tidak bisa bergerak jauh,” tutur Crigman. “Dia tewas seketika itu juga.”

Menurut dakwaan, kemudian Tracie menyembunyikan pisau dalam sepatu botnya. Diduga, pisau itu dibuang saat ia mendapat perawatan di rumah sakit. Seorang perawat sempat melihat Tracie berada di kamar mandi agak lama, hingga menimbulkan kecurigaan.

Berdasarkan pemeriksaan DNA oleh ahli forensik, noda darah sepanjang 5 cm di sepatu Tracie diketahui positif milik Lee. Ahli forensik juga mendapatkan tiga helai rambut Tracie di tangan Lee. Diduga Lee sempat menjambak Tracie untuk melawannya.

“Terhadap kenyataan itu, Tracie hanya menyebutkan bahwa rambutnya mudah rontok,” kata Crigman mengutip pengakuan Tracie kepada polisi.

Crigman menambahkan, jika tidak berhati-hati dan terlipat, pisau Swiss Army dapat melukai jari penusuknya. Pada hari pembunuhan, jari Tracie juga menderita luka seperti itu.

Saksi mantan polisi

Dalam sidang pengadilan yang berjalan lebih dari tiga minggu, Tracie tetap terlihat tenang. Sama sekali tak ada kesan ia telah berbuat kejahatan. Berita-berita seputar pengadilan kasus tersebut pun semakin menguntungkan Tracie. Dukungan terhadapnya semakin besar.

Yang terjadi di ruang sidang justru sebaliknya. Kesaksian sejumlah orang semakin menyudutkan Tracie. Terutama saat saksi seorang wanita yang menghubungi 999 dipanggil ke depan sidang. Tanpa basa-basi, saksi yang mantan polisi itu mengungkapkan kecurigaannya kepada Tracie sejak awal.

Sesaat setelah kejadian, ia membawa Tracie Andrews ke rumahnya, hanya beberapa puluh meter dari TKP. Saat itu saksi sempat bertanya, kalau-kalau terdakwa ingat warna kendaraan, nomor polisi, atau mungkin mendengar nama pelaku. “Dia bilang tidak ada yang bisa diingatnya,” kata saksi menyatakan keheranannya.

Saksi menyatakan telah mempunyai pengalaman sepuluh tahun dan mendapat latihan khusus untuk menyusun pertanyaan semacam itu. “Aku pikir ini penting. Jika Tracie mampu memberi jawaban, maka saya dapat memberi tahu polisi sehingga mereka dapat melakukan penyelidikan secepatnya.”

Anehnya, lanjut saksi, beberapa saat setelah polisi datang, Tracie dapat bercerita tentang sedan Sierra hitam, bahkan mendeskripsikan penyerangnya. Menjawab pertanyaan Crigman, wanita ini juga mengaku tidak mendengar ada mobil ngebut malam itu.

Ronald Thwaites, pengacara Tracie, langsung menyatakan keberatan. Itu karena saksi tidak menyebut hal ini dalam pernyataan pertamanya. “Mengapa setelah Tracie didakwa membunuh, dia menambahkan pernyataan itu?” gugat Thwaites sengit. Saksi menjawab, ia tidak ingat apakah dirinya telah atau belum mengatakan pernyataan itu.

Pada bagian akhir, saksi mendeskripsikan saat ia menemukan Lee Harvey terbaring di jalan dengan leher tertusuk. Tracie berdiri di samping kendaraan, dalam keadaan panik dan menangis, dengan percikan darah di wajahnya. “Dia berbalik ke mayat Harvey setidaknya dua kali dan mengatakan sesuatu yang tidak bisa didengar,” kata wanita itu menutup kesaksiannya.

Kepada juri, penuntut kemudian membacakan pernyataan terdakwa kepada polisi. Dalam catatan itu tertulis, Tracie tidak menyadari Lee telah ditusuk, ketika ia melihat darah di tangannya saat menyentuh mayatnya.

Di sinilah penuntut mengungkapkan sebuah kejanggalan di mana terdakwa tidak bisa menjelaskan ketidakcocokan deskripsinya seputar peristiwa pembunuhan. Tracie mengatakan, pertarungan terjadi di depan mobil, tetapi darah ditemukan di bagian belakang.

“Mengenai tidak adanya saksi yang melihat mobil pembuntut, Tracie juga tak bisa berkomentar. Begitu pula tentang asal darah yang ada di bajunya,” kata Crigman. Posisi Tracie makin tersudut.

Dikuntit Mr.X

Pengacara Tracie berpikir keras untuk mengarahkan sorotan negatif terhadap kliennya. Awalnya, Thwaites mencoba mengambilnya dari sudut hubungan Tracie dan Lee yang hendak menuju ke arah pernikahan. Setidaknya, Tracie masih mengenakan cincin pertunangannya hingga sekarang.

“Sejak kematian Lee, hidup Tracie menjadi hampa. Inilah yang menjadi alasannya bunuh diri,” kata Thwaites penuh tekanan. “Lagi pula, tidak masuk akal kalau ia mau pergi berduaan, sekadar untuk menghabisi kekasihnya.”

Thwaites mencoba mengalihkan sasaran kepada Lee Harvey. Pria itu digambarkannya sebagai pemuda yang pencemburu berat dan tidak dewasa. Kepergiannya dari rumah selama pertengkaran menjadi bukti ketidakdewasaannya. “Hanya karena besarnya cinta Tracie yang membuatnya kembali.”

Tracie juga mengakui soal kecemburuan itu. Lee memang sering mengatur hidupnya, seperti misalnya caranya berpakaian saat ia bekerja sambilan di sebuah klab malam. Kekasihnya itu juga selalu menyeleksi pergaulannya, bahkan dengan teman wanita sekalipun.

“Sesungguhnya, Tracie pernah berkeinginan untuk hamil, tetapi dia takut melakukannya. Ia khawatir Lee tidak setuju,” ungkap Thwaites mencoba menggambarkan sikap otoriter Lee.

Pada bagian pembelaannya, Thwaites juga mengungkap sebuah fakta mengejutkan. Menurut informasi di kepolisian, sebenarnya ada tersangka pembunuh yang cocok, tapi tak dihiraukan penyidik. Informasi itu menyatakan, ada seseorang yang dicurigai telah mengikuti Lee dan Tracie keluar malam itu. Ia diidentifikasikan sebagai Mr. X yang konon juga terlibat dalam kekerasan jalanan beberapa tahun sebelumnya.

Bahkan, Thwaites melanjutkan, lima hari setelah kasus pembunuhan itu, polisi mendapat telepon yang mengatakan melihat Mr. X meninggalkan klab malam tak lama setelah Lee Harvey pergi. “Ketika Lee pergi, Mr. X menguntitnya. Mereka sempat saling pelotot. Penelepon menduga akan terjadi perkelahian, tapi ternyata Mr. X pergi ke Ford Sierra biru tua.”

Hingga pengadilan berlangsung, sosok Mr. X masih misterius. Nama Mr. X sebenarnya berasal dari bagian Reserse yang mendapat informasi bahwa pada malam pembunuhan ada seorang bandar menyimpan kokain dalam jumlah besar. Mr. X dideskripsikan sebagai seseorang berperawakan gemuk dengan sorot mata tajam, mirip dengan penggambaran Tracie. Thwaites protes karena informasi penting ini diabaikan polisi.

Menggigit leher

Upaya keras pembela seolah pupus saat Tracie Andrews menjadi saksi untuk penuntut. Posisinya begitu dilematis bagi Thwaites karena penuntut dapat melakukan pemeriksaan silang.

Seperti tak ingin melepaskan buruannya, Crigman tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Tracie diperlakukan bak anak kijang di sarang singa.

“Menurut keterangan Anda kemarin, peristiwa pembunuhan terjadi di sekitar Burcot. Tapi pada malam pembunuhan keterangan Anda pada polisi, peristiwa terjadi di lokasi yang berbeda. Apakah Anda mengubah cerita? Berarti ini penipuan berencana?”

“Tidak,” sanggah Tracie yang tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. “Aaa … aku hanya kurang yakin saat itu.”

Crigman tersenyum. Ia mengungkap kejanggalan menyangkut waktu pembunuhan. Mobil Lee terlihat di Coopers Hill antara pukul 10.28 sampai 10.32. Sedangkan saksi pertama melihat mayat korban di jalan pukul 10.50. Ada selang waktu 17 menit antara kematian Lee dan saksi meninggalkan rumah menuju mobilnya.

“Menurut keteranganmu, setidaknya peristiwa itu berlangsung sepuluh menit.” Crigman berhenti sejenak. “Bagaimana Anda menjelaskan soal jeda tujuh menit setelah orang itu pergi dan sebelum saksi datang?”

“Tidak bisa.” “Lalu apa yang Anda kerjakan selama 15, 16, 17 menit? Selama 17 menit tidak berusaha untuk minta pertolongan dari rumah di sekitar?”

“Memang tidak. Sampai aku lihat cahaya dari sebuah rumah dan memungkinkan saya untuk minta tolong. Lee saat itu terbaring di tanah, aku tidak mau meninggalkannya.”

“Kalau tidak mau meninggalkannya, mengapa Anda tidak membunyikan klakson?”

Alis Crigman berkerut.

“Aku tidak tahu.”

“Atau setidaknya berusaha berteriak?”

“Tidak. Lelaki itu memukulku keras. Semuanya seperti mimpi. Seharusnya aku berbuat sesuatu, tapi aku shock.”

“Tapi bukankah cukup waktu sebelum saksi datang melihat Anda?”

“Tidak.”

“Kalau Anda tidak merasa bersalah, Anda akan dapat pergi secepatnya ke rumah itu?”

“Bagaimana orang tahu apa yang harus dilakukan dalam situasi seperti itu?” balas Tracie.

Dalam argumentasi Crigman, baju Tracie yang berlumuran darah menunjukkan, setidaknya ia dalam posisi menempel saat korban ditusuk di lehernya. “Jika tidak, bagaimana darah itu bisa muncrat ke blusmu?”

“Aku tidak dapat menjawabnya. Aku tidak tahu.”

Crigman mencoba mengingatkan Tracie tentang pertengkaran pasangan itu, yaitu saat Tracie menggigit Lee. Crigman menyatakan keheranannya, seorang perempuan normal bisa-bisanya menggigit leher.

“Apa yang Anda rasakan?” kejar Crigman.

“Aku marah. Toh, banyak orang melakukan tindakan seperti itu. Lee juga pernah melakukannya.”

“Pasti butuh niat yang besar untuk menaruh gigimu di leher seseorang. Dalam kondisi yang kurang lebih sama, kamu juga dapat menaruh pisau di lehernya, ‘kan?”

“Tidak.”

Menurut argumentasi penuntut, setelah melakukan pembunuhan, Tracie langsung mematikan lampu mobil untuk berpikir. “Dalam pernyataan Anda, dikatakan lampu dalam keadaan menyala, tapi keterangan dari polisi dan saksi setempat menyatakan lampunya padam.” Crigman sejenak melirik Tracie.

“Jejak darah Lee Harvey ditemukan di tepi pintu mobil, yaitu ketika Anda membukanya untuk mematikan lampu. Jika lampunya dinyalakan, maka akan ada yang melihatnya. Begitu ‘kan?”

Tracie lagi-lagi diam.

Sebelum mengakhiri sesi pertanyaannya, penuntut menambahkan, dalam cerita pembunuhan karangan terdakwa, alasan Tracie memilih sedan Ford Sierra hitam sebagai mobil pembuntut besar kemungkinan berdasarkan pengalaman pribadinya. Tracie dan Lee sesungguhnya pernah memiliki mobil dengan merek dan warna serupa. “Anda mengarang cerita dan menggabungkannya dengan pengalaman pribadi,” kata Crigman.

“Itu hanya situasional,” kata pembela, menyatakan keberatan dengan penilaian itu.

Pengakuan jujur

Setelah vonis dijatuhkan, setidaknya satu kali pembela Tracie mencoba mengajukan peninjauan kembali kasus itu dengan menyodorkan saksi-saksi baru. Meski upaya itu kandas, banyak orang tetap percaya Tracie tidak bersalah. Hingga April 1999, Tracie membuat pengakuan yang mengejutkan.

Lewat sebuah surat yang dikirim dari penjara Bullwood Hall Essex, Tracie mengaku telah menusuk Lee Harvey dalam sebuah pertengkaran yang disebutnya lepas kontrol. Surat yang dimuat News of The World itu menyatakan, pada malam pembunuhuhan keduanya bermaksud pulang ke rumah.

“Di tengah jalan terjadi pertengkaran. Lee mengeluarkan pisau dan mengancam akan menyayat wajahku atau akan menusuk,” tulis Tracie. Masalahnya, Lee cemburu kepada Andy, mantan pacar Tracie.

Keduanya kemudian keluar dari mobil, lalu Lee menghampiri dan menjambak rambut kekasihnya itu. Lee mengancam dengan pisau, “Lihat saja jika Andy menginginkanmu lagi.”

Tracie mengaku saat itu takut setengah mati. Tapi kemudian ia sempat menjegal Lee hingga terjatuh. Lee ternyata menariknya, sehingga keduanya terjatuh ke rumput. Lee memukulnya lagi.

Tracie berusaha berdiri. Keduanya sempat saling memaki. Saat itulah Tracie melihat ada pisau di tanah yang segera diambilnya. Saat Lee ingin bertindak kasar lagi, Tracie segera bereaksi dengan pisau.

“Aku harus menusuknya. Jika tidak, dia akan terus memukuliku. Aku sempat mundur. Yang kuingat, aku menjadi gelap mata. Aku marah, gemetar, dan kehilangan kontrol. Belum pernah aku mengalami kehilangan kontrol seperti malam itu,” aku Tracie.

Sejenak Lee mencoba membalas, sebelum akhirnya terjatuh. Tracie menghampiri Lee dan mencoba mengajaknya berbicara. Ia mengguncang tubuh Lee. Bunyi napasnya berat dan matanya mendelik. “Aku merasa ngeri. Tanganku terasa basah.”

Sewaktu meraih mayat pacarnya, tulis Tracie, muncul perasaan sangat sedih dan bersalah. Terlebih saat menyadari Lee telah tewas, ia merasa seluruh hidupnya sudah berakhir.

Saat itu yang ada hanya kebingungan dan ketakutan. Sampai akhirnya, ia memutuskan untuk mengarang cerita bahwa mereka diserang seseorang. Pisau itu kemudian disembunyikan di celananya, dan saat di rumah sakit, dihanyutkannya ke toilet.

“Aku merasa seharusnya dihukum untuk pembunuhan tak disengaja. Aku memang seharusnya jujur pada kesempatan pertama,” tulis Tracie.

Benarkah itu semua pernyataan jujur Tracie?

Ray dan Maureen Harvey, orang tua Lee Harvey

Ray dan Maureen Harvey, orang tua Lee Harvey

Lee Harvey, menurut rekan-rekannya, tidak pernah membawa pisau. Mereka yakin, Tracie sengaja membawanya dari rumah malam itu. Entah untuk tujuan apa.

Kisah nyata/Road Rage/Tj

Berikut ini adalah penuturan kasus ini dari sudut pandang Ibunda Lee, Maureen Harvey : http://www.dailymail.co.uk/femail/article-453764/My-son-murdered-road-rage-girlfriend.html

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: