Mayat Gadis Cantik ini Ditemukan oleh Paranormal

Durban, Afrika Selatan. Malam terus beranjak semakin larut. Sudah tiga jam Maud Aken mondar-mandir di ruang tamu, sambil berkali-kali melihat jam dinding. Sesekali perempuan tua itu membuka pintu, berharap Myrna Joy Aken (18), anak gadisnya, datang. Biasanya Joy sampai di rumah tak lewat pukul tujuh malam. Tapi malam itu wajah cantik anaknya tak juga muncul hingga pukul sepuluh malam.

Padahal, pihak kantor bilang, Joy pulang pukul enam sore. Perasaan keibuannya mengatakan, ada sesuatu yang tak beres dengan anak gadisnya. Tapi perasaannya tak mampu membedakan, apakah Joy mengalami … Jangan-jangan …. Ah, tidak!

Berkali-kali ia menyuruh Colin, anak laki-lakinya, untuk pergi ke kantor Joy. Berkali-kali itu pula Colin menolak.

“Buat apa ke sana? Dia ‘kan sudah keluar kantor,” bantahnya. Jawaban itu membuat ibunya kesal. Tapi ia tahu Colin benar. Mulutnya tampak berkomat-kamit tipis merapalkan sesuatu. Entah gerutu, entah doa.

Baju pesta sia-sia

Semakin malam, Maud tampak semakin gusar. Tiba-tiba saja ia menjadi begitu benci terhadap malam, karena gelap selalu menjadi persembunyian orang-orang jahat yang melakukan tindak kriminal. Ia yakin sekali, telah terjadi sesuatu yang tak beres dengan Joy. Sebelum berangkat, gadis itu bilang akan pergi ke pesta kawannya sepulang kerja.

Maud bahkan sudah menyiapkan gaun yang bakal dipakai anaknya. Gaun itu kini masih tergantung rapi di kamarnya.

Tak sabar dengan Colin yang selalu membantah, Maud masuk ke kamar, berganti pakaian, hendak berangkat ke kantor Joy sendirian. Begitu keluar menuju garasi, ia mendapati Colin sudah berada di dalam mobil.

Meski tak bisa menyembunyikan kekesalannya, si ibu menurut saja ketika Colin membukakan pintu mobil untuknya. Mereka berangkat dengan sama-sama kesal.

Sepanjang perjalanan, mereka diam satu sama lain, sibuk dengan pikirannya masing-masing.

Setengah jam kemudian, mereka sampai di lokasi kantor Joy. Suasana lengang. Lampu-lampu sudah dimatikan. Hanya beberapa yang masih menyala. Beberapa orang petugas keamanan menghentikan mobil mereka di pintu masuk. “Selamat malam! Ada yang bisa kami bantu?”

Dengan penuh kecemasan, Maud menjelaskan maksud kedatangan mereka berdua. Namun, dari para petugas keamanan itu mereka tak memperoleh informasi tambahan apa-apa.

Joy sudah meninggalkan kantor sejak pukul enam sore. Titik. Seperti biasa, ia meninggalkan kantor sendirian. Cuma itu informasi yang mereka dapat. Informasi itu seolah memperkuat dugaan Maud bahwa memang telah terjadi sesuatu yang tidak beres dengan Joy. Pastilah sesuatu yang sangat buruk, hingga Joy tak sempat menelepon ke rumah.

Dari kantor Joy, Colin melajukan mobilnya ke kantor polisi. Di sana, mereka mendapat sambutan yang sama, “Selamat malam! Ada yang bisa kami bantu?”

Kali ini Colin mewakili ibunya, menjelaskan maksud kedatangan mereka. Beberapa menit kemudian, mereka ditemui langsung oleh Brigadir Polisi Grobler. Dengan kecemasan yang tak surut sedikit pun, Maud tampak tegang ketika menjawab pertanyaan polisi tentang anaknya.

“Umur 20 tahun. Sekretaris. Cantik. Rambut hitam sebahu. Meninggalkan kantor pukul enam sore. Sendirian. Memakai ….” Colin menjelaskan dengan rinci.

Dari catatan polisi, tak ada laporan tentang kecelakaan lalu lintas malam itu. Grobler hanya bisa berjanji, mereka akan membantu mencari Joy. Tak menunggu sampai matahari terbit, tapi malam itu juga.

“Ibu tak perlu terlalu risau hanya karena perasaan. Mungkin Joy langsung berangkat ke pesta dan lupa tak menelepon rumah,” hibur Grobler.

Tapi Maud seperti tak bisa dihibur. Ia meninggalkan kantor polisi dengan wajah semakin gusar. Seorang polisi ikut mengantar ke rumah mereka. Sampai di rumah, polisi memeriksa kamar Joy. Ia membolak-balik gaun Joy yang tergantung rapi. Tak ada petunjuk apa-apa yang bisa didapat. Ia kemudian meninggalkan rumah dengan pesan agar kamar Joy tidak diutak-atik.

“Mungkin nanti kami memperoleh petunjuk,” katanya.

Tak urung, ini malah membuat Maud bersungut-sungut. Malam itu, ia tak bisa memicingkan mata sebentar pun. Di kepalanya berkecamuk berbagai dugaan.

Malam seperti beringsut sedemikian pelan. Maud tak sabar menunggu pagi. Menunggu cahaya matahari yang akan menerangi muka orang-orang jahat.

Menjelang pagi, Maud dan Colin mendahului matahari terbit, bergegas pergi ke kantor polisi lagi, menanyakan kabar pencarian Joy. Belum ada kemajuan. Hanya ada informasi tambahan bahwa sebelum Joy menghilang, ia dua kali disambangi tamu. Seorang pria yang sangat tampan, kata kawan-kawan Joy yang kebanyakan cewek. Umurnya jauh lebih tua dari Joy. Tapi tak ada satu pun kawan Joy yang mengenal pria itu.

Di kantor, Joy dikenal tertutup soal kehidupan asmaranya. Bahkan Maud pun mengaku tak banyak tahu tentang kawan-kawan Joy. Ia bahkan tak tahu apakah Joy sudah punya pacar atau belum. Joy tak pernah bercerita. Juga tak pernah memperkenalkan pria itu kepada Maud. Cindy, kawan dekat Joy di kantor, mengatakan kepada polisi bahwa ia pernah berpapasan dengan Joy bersama pria tampan itu, mengendarai mobil Ford Anglia warna merah.

Semua kawan Joy dimintai keterangan tentang pria itu. Tapi tak banyak informasi yang didapatkan. Setiap kali polisi bertanya kepada mereka, jawaban pertama adalah bahwa pria itu tampan. Sangat tampan. Jawaban khas perempuan. Menurut dugaan mereka, pria itu umurnya kira-kira belasan tahun di atas Joy. Ia pernah dua kali menjemput Joy ke kantor.

Pada kunjungan pertama, keduanya tampak akrab, mesra. Tapi pada kunjungan kedua, Joy tampak seperti menyembunyikan rasa kesal pada pria itu. Cuma itu informasi yang bisa digali polisi. Jelas saja polisi tak bisa mempersempit pencarian hanya dengan bekal informasi itu. Di Durban, ada ribuan pria tampan dan mobil Anglia merah.

“Salah satunya adalah saya,” kata Grobler berkelakar kepada Ajun Brigadir Polisi Leon, salah seorang anak buahnya. Ia berani bergurau ketika Maud sudah meninggalkan kantor polisi. Hari itu juga, Maud menelepon John, suaminya yang bekerja di Pretoria, memintanya pulang. Selama ini, John dan Joy adalah dua seteru yang tak pernah akur. Meski Joy adalah anak kandung John sendiri, hubungan keduanya jauh dari kesan hubungan seorang ayah dan anak. Joy tak pernah menggubris ucapan bapaknya. Ayahnya pun tak pernah peduli dengan apa yang terjadi pada anak gadisnya.

Maud curiga, suaminya ikut bertanggung jawab terhadap hilangnya Joy. Tapi ia tak mengatakan hal itu kepada polisi. Ia tak ingin masalah keluarganya menjadi catatan polisi. Merasa dicurigai, John tak sanggup menahan murkanya. “Binatang buas saja tak akan memangsa anaknya sendiri,” umpatnya sambil meninggalkan Maud.

Teropong pakaian dalam

Hingga seminggu sejak Joy hilang, belum ada tanda-tanda polisi menemukan jejaknya. “Polisi tak bisa diandalkan!” keluh Maud di depan Grobler, ketika kekesalannya memuncak. “Polisi bukan dewa, Bu!” elak Grobler. Tapi ia cuma mengucapkannya di dalam hati. Ia takut menyinggung perasaan Maud.

Tiap malam, Maud tidur tak lebih dari empat jam. Seminggu sejak Joy hilang, wajahnya tampak kusut. Asmanya sampai kumat. Colin pun ikut merasa bersalah atas hilangnya Joy. Bahkan John, ayahnya, sampai mengambil cuti kerja. Di hari kedelapan, Colin menyarankan ibunya untuk minta bantuan Nelson Palmer, seorang paranormal yang juga mantan kepala SMA tempat Colin dan Joy bersekolah dulu.

Awalnya, Maud tak menghiraukan saran Colin. Ia tidak begitu percaya dengan semua yang berbau klenik. Tapi Colin kemudian berhasil meyakinkan ibunya bahwa Nelson tidak seperti paranormal kebanyakan. Di kalangan orang-orang dekatnya, Nelson dikenal sebagai paranormal nyentrik, misterius, dan sangat pilih-pilih. Ia lebih sering menolak permintaan daripada mengabulkan.

Ia bisa melihat sesuatu di tempat yang jauh, tapi ia sendiri tidak mau disebut paranormal. “Ilmu yang saya gunakan ini sama sekali bukan klenik. Sama seperti teknologi telepon yang memungkinkan dua orang bicara dari tempat yang jauh. Saya tidak menggunakan kemampuan saya secara sembarangan!” katanya kepada Maud.

“Tapi ini bukan permintaan sembarangan, Pak Nelson. Ini menyangkut nyawa Joy, anak saya, juga bekas murid Pak Nelson,” bujuk Maud. Dengan bantuan wajahnya yang memelas, Maud tak butuh waktu lama untuk membuat Nelson menganggukkan kepala. Ia kemudian minta kepada Maud untuk membawa beberapa pakaian Joy, termasuk beberapa pakaian dalamnya. “Maaf. Saya tak bermaksud jorok. Tapi saya ingin mengetahui sebuah rahasia. Saya perlu barang yang sangat pribadi.”

Hari itu juga, Maud, John, dan Colin datang ke rumah Nelson sambil membawa beberapa potong pakaian Joy. Nelson membawa mereka ke ruang pribadinya, sebuah kamar yang sangat rapi dan penuh buku, jauh dari kesan kamar paranormal.

Sambil disaksikan ketiga orang keluarga Joy, Nelson mulai melakukan ritusnya. Ia meletakkan pakaian-pakaian Joy di meja, memegangnya dalam keadaan mata terpejam.

Selama beberapa menit, suasana senyap. Yang terdengar hanya napas Nelson yang naik turun. Beberapa saat kemudian Nelson bicara. Suaranya berat, “Joy sudah meninggal!” Mendengar kata-kata itu, Maud lunglai. Tungkainya seolah tak sanggup menahan tubuhnya tetap berdiri. Suasana ruangan sesaat menjadi muram. Entah mengapa Maud percaya begitu saja dengan kata-kata Nelson, seolah-olah ia telah terbiasa mempercayai tukang ramal.

“Jika sudah meninggal, di mana mayatnya?” tanya Maud sambil tak kuat menahan air mata sedihnya. Nelson kemudian melanjutkan ritusnya lagi, memegang pakaian Joy, sambil matanya terpejam. Sesaat napasnya kembali terdengar naik turun. “Dia ada di sebuah tempat … seperti … sebuah saluran air …. Di dekatnya ada … bukit ….” Ia bicara putus-putus seperti sedang mengamati sebuah tempat.

Ketika Nelson membuka matanya, mereka berempat saling berpandangan. “Aku tahu tempatnya. Jika kalian mau, antarkan aku ke sana!” katanya. Tanpa menunggu jarum menit pindah angka, mereka berempat segera berangkat. Colin menyetir, sementara Nelson menjadi penunjuk jalan. Mereka melaju ke arah selatan hingga keluar dari Durban.

Telah puluhan kilometer mereka tempuh, tapi Nelson belum juga menyuruh berhenti.

Ia terus bilang, “lurus”, “belok kiri- belok kanan”. Wajahnya yang masam selalu memandang lurus ke depan. Matanya seperti tak pernah berkedip. “Lelaki tua yang sangat aneh,” pikir Maud. Nelson tak pernah bicara kecuali ditanya. Tampangnya tampak sangat pas untuk memerankan tokoh antagonis di film-film misteri.

Sedemikian jauhnya jarak tempuh mereka, Maud sampai kelihatan teler dan berkali-kali mengubah posisi duduknya. Namun, ia tak berani bertanya macam-macam kepada Nelson. Ketika hampir saja Maud angkat suara, Nelson menyuruh Colin menghentikan dan meminggirkan mobil, tepat ketika mereka berada di antara dua buah bukit di wilayah Umtwalumi.

Nelson turun dari mobil, kemudian berjalan turun ke arah lereng bukit. Colin dan John mengikuti dari belakang sementara Maud tinggal di mobil. Nelson terus menuruni lereng bukit hingga ia sampai di depan sebuah pintu gorong-gorong. Ia berhenti di sana, mengamati lubang gorong-gorong yang gelap dan kotor. Baunya busuk. Tampaknya memang bau mayat. Tapi karena bagian dalam saluran air itu gelap, mereka bertiga tak bisa melihat apa-apa.

“Sebaiknya, kamu minta bantuan polisi,” kata Nelson kepada Colin. Dengan sigap, Colin kemudian meninggalkan Nelson, mencari kantor polisi terdekat. Setengah jam kemudian ia kembali. Nelson masih berada di tempat semula dengan posisi berdiri tak berubah, seperti ketika ditinggal oleh Colin.

Berbekal berbagai alat bantu untuk medan sulit, polisi tak kesulitan masuk ke dalam gorong-gorong.

Beberapa menit kemudian mereka keluar membawa potongan tubuh manusia. Tak salah lagi, tubuh Joy. Tubuhnya dipotong menjadi dua bagian. Di kepalanya masih tampak sisa luka tembakan sementara organ-organ bagian perutnya terburai keluar.

Colin dan John bergidik melihatnya. Untung saja Maud tak ikut turun ke bawah. Jika melihat, ia pasti perlu digotong untuk menaiki lereng.

Teman selingkuh

Berbekal laporan penemuan mayat Joy, Brigadir Polisi Grobler mempersempit pencarian di sekitar wilayah Umtwalumi. Berdasarkan catatan polisi, di daeran itu ada delapan orang yang memiliki mobil Anglia warna merah. “Tapi tak ada satu pun yang sangat tampan,” gurau Leon kepada Grobler.

Namun, keraguan Grobler berubah menjadi harapan ketika ia bicara dengan Themba, salah satu pemilik Anglia merah. Di bengkel radio panggil miliknya, ia mengaku punya seorang pegawai, Clarence Van Buuren, yang sering memakai mobilnya untuk urusan kerja maupun pribadi. Themba mengaku, Van Buuren membawa kabur uangnya dan tidak masuk kerja sejak seminggu yang lalu.

“Apakah ia tampan?” tanya Grobler.

“Sangat tampan,” jawabnya tanpa ragu.

“Ya! Tak salah lagi!” seru Grobler dalam hati. Ia merasa telah menemukan titik terang.

Berbekal alamat dari Themba, polisi mengejar Van Buuren ke rumahnya di Pinetown.

Tak tanggung-tanggung, puluhan polisi dikerahkan. Ketika mereka sampai di sana, Van Buuren sempat berusaha melarikan diri dari pintu belakang. Tapi polisi tak perlu usaha terlalu keras untuk membekuknya.

Malam itu juga, Van Buuren dibawa ke kantor polisi. “Hmmm, dia memang tampan. Cewek-cewek itu tak salah. Pantas saja Joy jatuh cinta,” kata Grobler kepada Leon.

Di depan Grobler, Van Buuren bersikukuh menyangkal telah membunuh Joy. Ia bahkan mengaku terkejut mengetahui Joy meninggal dunia. Ia tak menyangkal dirinya kenal dekat dengan Joy dan pernah datang dua kali ke kantornya. Ia juga mengaku pernah mengajak Joy berjalan-jalan dengan mobil Anglia merah milik Themba. Pengakuannya sama persis dengan cerita kawan-kawan Joy.

“Bagaimana logikanya, saya membunuh orang yang saya sukai?” elak Van Buuren.

“Lalu mengapa Anda berusaha kabur ketika polisi datang?” desak Grobler.

“Saya kira polisi mau menangkap saya karena membawa kabur uang Pak Themba,” jawabnya.

“Anda sudah punya istri dan anak, mengapa masih berhubungan dengan Joy?” tanya Grobler.

“Saya pikir urusan selingkuh bukan tindakan kriminal,” tukasnya.

Van Buuren mengaku, pada malam hilangnya Joy, ia berada di rumahnya di Pinetown. Ia bahkan menyarankan polisi memeriksa John, ayah Joy.

“Saya tak bermaksud menuduh, tapi mungkin polisi bisa memperoleh informasi,” ujarnya. Menurut pengakuannya, Joy sering curhat kepadanya bahwa ia sering bertengkar dengan ayahnya. Hingga berjam-jam interogasi, Grobler tak menemukan bukti bahwa Van Buuren membunuh Joy. Tapi ia tetap ditahan atas dakwaan melawan polisi dan membawa kabur uang Themba.

Esoknya, polisi memanggil John, ayah Joy. John marah-marah ketika diinterogasi. Ia merasa telah dituduh oleh polisi dengan pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan.

“Saya mungkin bukan seorang bapak yang baik. Tapi apa untungnya saya membunuh anak sendiri?” John balik bertanya. Ia mengaku sedang berada di Pretoria saat Joy hilang.

“Dua ratus kilometer dari Durban! Bagaimana mungkin saya membunuhnya?” tangkisnya keras dengan urat-urat menyembul di batang lehernya.

Grobler kali ini pun tak punya bukti apa-apa. Perusahaan tempat John bekerja di Pretoria memberi kesaksian bahwa John tidak pernah meninggalkan pekerjaan selama sebulan terakhir. Kawan-kawan kerjanya pun mengatakan, mereka bersama John pada malam hilangnya Joy.

Grobler maupun Maud sebetulnya menduga, Van Buurenlah pembunuhnya. Namun, sejauh itu mereka belum menemukan bukti.

“Saya bisa merasakan, pria itulah yang membunuh anak saya. Saya yakin!” kata Maud yang berulang-ulang mempertanyakan kemajuan kasus penyelidikan itu.

“Polisi boleh bekerja dengan perasaan, Bu! Tapi kami tak boleh menghukum orang lain atas dasar perasaan,” balas Grobler.

Sisa janin

Lebih dari 20 orang dimintai keterangan oleh polisi, termasuk Sylvia, istri Van Buuren.

Kepada polisi, ia mengaku suaminya memang berada di rumah saat malam kejadian hilangnya Joy. Hingga empat hari sejak mayat Joy ditemukan, polisi belum memperoleh kemajuan bermakna.

“Mengapa kita tidak memanfaatkan Nelson saja?” usul Leon pada Grobler, “Dia ‘kan bisa menemukan mayat Joy. Siapa tahu dia juga bisa menemukan pembunuhnya?”

Bukannya menanggapi usul itu, Grobler malah berseru, “Hei, mengapa kita percaya begitu saja kepada paranormal itu?”

“Maksud Pak Grobler?”

“Saya justru curiga kepada paranormal itu. Dia bisa menemukan mayat yang berada puluhan kilometer dari rumahnya. Jangan-jangan dia tahu pembunuhan ini. Kalau dia memang paranormal kondang, mengapa selama ini kita tidak pernah mendengar berita tentang kehebatannya?”

“Sebaiknya, kita tidak berprasangka buruk pada Nelson. Kalau dia tahu kita mencurigainya, dia pasti tidak akan mau menolong kita lagi. Siapa tahu kita masih butuh pertolongannya.”

“Oke. Kita coba saja!”

Esoknya, Grobler mengundang Nelson Palmer ke ruang kerjanya. Ia sengaja mengajak Nelson mengobrol layaknya sedang berkonsultasi. Ia tak ingin Nelson merasa dicurigai.

“Jika saya boleh tahu, bagaimana Anda bisa menemukan mayat Joy di tempat yang jaraknya puluhan kilometer dari rumah Anda?”

“Ah, itu hanya sedikit kemujuran,” jawabnya merendah.

“Apakah Anda punya penjelasannya buat polisi seperti saya?”

“Kami menyebutnya psikometri. Saya baru menguasainya ketika umur saya lebih dari 50 tahun. Ilmu ini tak beda jauh dengan ilmu listrik atau medan magnet. Kita bisa merasakannya tapi tak bisa melihatnya. Saya menerima sinyal dengan cara yang sama ketika radio menerima gelombang elektromagnetik. Saya bisa melihat sesuatu di tempat yang jauh, sama seperti Pak Grobler bisa bicara lewat kabel telepon. Pak polisi punya teknologi, saya punya kemampuan indera jarak jauh. Itu saja bedanya.”

“Apakah selama ini Pak Nelson sering menggunakan ilmu, emm, apa tadi namanya?”

“Psikometri. Seingat saya, baru lima kali saya menggunakannya.”

“Anda kenal dengan keluarga Joy?”

“Ya. Joy dan Colin bekas murid saya di SMA. Saya kepala sekolahnya.”

“Punya hubungan khusus dengan mereka?”

“Tidak.”

“Anda bisa menebak nomor lotre?”

“Saya bukan peramal. Saya tak bisa melihat masa depan. Kalau saya bisa menebak nomor lotre, pasti saya sudah kaya raya,” jawabnya dengan ekspresi wajah datar, tak ada senyum sedikit pun.

“Anda tahu lokasi mayat Joy dibuang. Mestinya, Anda juga tahu siapa pembunuhnya. Bukan begitu?”

“Sayang sekali, ilmu saya tidak sampai ke situ. Mungkin belum sampai!”

“Apa bedanya melihat mayat Joy dan melihat wajah pembunuhnya?”

“Terus terang, agak rumit menjelaskan ini. Keduanya berbeda. Mungkin seperti telepon yang bisa dipakai untuk bicara, tapi tak bisa dipakai untuk mengetahui pencuri yang menggarong rumah.”

“Apa yang Anda perlukan agar bisa mengindera jarak jauh?”

“Biasanya, saya menggunakan pakaian yang pernah melekat langsung di kulit orang yang bersangkutan.”

“Kalau begitu, apakah Anda bisa melihat apa yang telah terjadi dengan Joy dan Van Buuren jika Anda punya pakaian keduanya?”

“Saya belum pernah melakukan itu sebelumnya. Tapi, mungkin bisa dicoba.”

“Anda berani menjamin penglihatan Anda benar?”

“Saya tak bisa menjamin. Tapi saya menawarkan jalan tengah: saya mengindera, dan polisi mencari bukti. Klop ‘kan?”

“Pintar juga Anda. Rupanya, Anda tidak sebodoh tampang Anda,” gumam Grobler di dalam hati.

“Apakah Anda bisa membaca pikiran saya?” tanya Grobler sedikit khawatir, jangan-jangan Nelson bisa membaca pikirannya.

“Saya tak bisa membaca pikiran orang. Tapi saya bisa merasakan Pak Grobler meragukan saya,” jawabnya.

Grobler diam saja.

Hari itu juga Grobler meminta Leon mengumpulkan beberapa potong pakaian Van Buuren dan Joy, termasuk pakaian dalam mereka. Van Buuren sendiri tak tahu celana kolornya akan dipertemukan dengan celana dalam Joy di depan Nelson.

Setelah pakaian itu terkumpul, Grobler dan Leon membawanya ke Nelson.

Di ruang pribadinya, Nelson kembali melakukan ritusnya, disaksikan Grobler dan Leon. Matanya terpejam. Tangannya memegang pakaian-pakaian itu. Napasnya naik turun.

“Saya cuma bisa melihat Van Buuren dan mayat Joy,” kata Nelson dengan suara berat.

“Cuma itu?” tanya Grobler setengah tak puas.

Nelson kemudian melanjutnya ritusnya. Bermenit-menit kemudian, ia baru berujar sambil tetap memejamkan mata, “Tampaknya, dua benda ini pernah bertemu.”

Tangannya mengangkat pakaian dalam Joy dan Van Buuren.

“Maksud Anda?”

“Apakah saya perlu menjelaskan?”

“Maksud Anda, mereka pernah melakukan hubungan seksual?”

Nelson tak menjawab pertanyaan itu dan menganggap Grobler percaya dengan pepatah: diam berarti ya. Tapi Grobler masih tampak kurang puas dengan penemuan itu. Merasa tak dapat mengindera lebih banyak lagi, Nelson menghentikan ritus itu.

Esoknya, polisi minta bantuan dokter untuk memeriksa potongan mayat Joy lebih detail lagi. Terutama organ bagian perutnya yang dipotong-potong. Dari pemeriksaan itu, dokter menyimpulkan, tak ada indikasi pemerkosaan. Tapi dokter mendapatkan sesuatu yang sangat penting. Mereka menemukan sisa sel-sel janin di organ-organ bagian perut yang terburai. Tak banyak, tapi cukup sebagai bukti untuk membuat kesimpulan.

“Hebat juga paranormal ini,” kata Grobler kepada Leon.

“Paranormal meramal, polisi mencari bukti,” balas Leon menirukan ucapan Nelson.

Pada interogasi selanjutnya, Van Buuren mengakui dirinya pernah melakukan hubungan seksual dengan Joy. Namun, Van Buuren lagi-lagi berhasil mengelak. “Itu bagian dari perselingkuhan. Biasa ‘kan?” Dia juga mengaku tak tahu kalau Joy hamil.

Sampai di sini, Grobler merasa masih belum punya bukti yang cukup. Merasa tak bisa memaksa Van Buuren mengaku, Grobler kemudian memeriksa kembali Sylvia, istrinya. Pada awal pemeriksaan, Sylvia mengaku Van Buuren berada di rumah saat malam hilangnya Joy.

Pada pemeriksaan kedua, Grobler langsung menohok Sylvia dengan mengatakan bahwa polisi telah menemukan bukti Van Buurenlah pembunuhnya. Sylvia didakwa ikut bersekongkol menyembunyikan aksi pembunuhan itu.

“Kami akan meringankan hukuman Anda jika Anda memberi kesaksian yang benar,” kata Grobler.

Setelah dicecar dengan banyak pertanyaan yang menjebak, Sylvia mengaku dirinya memang mengetahui pembunuhan itu. Tapi ia sengaja berusaha menyelamatkan suaminya dengan memberi kesaksian palsu. “Saya tahu dia berselingkuh, melarikan uang majikannya, dan membunuh orang. Tapi saya tak sanggup kehilangan dia,” katanya.

“Van Buuren hanya ingin bersenang-senang dengan gadis itu. Tapi Joy ingin lebih. Dia sengaja membuang janin di perut Joy supaya, kalaupun mayatnya ditemukan, polisi tak akan menemukan motif pembunuhan itu,” imbuh Sylvia.

Mendengar kesaksian itu, Leon sekali lagi berbisik di telinga Grobler, “Nelson meramal, Maud mengandalkan perasaan, Grobler mencari bukti. ‘Klop kan?”

June 10th 1957
Clarence Van Buuren – South Africa

A medium called in by South African police to help solve the disappearance of 18-year-old Myrna Aken was able to lead investigators to the teenager’s naked body, hidden under a road drain 60 miles away from the place where she had been abducted. She had been shot with a .22 rifle.

Myrna was given a lift by salesman Clarence van Buuren in Durban on October 2nd, 1956, and was never seen alive again. Van Buuren was the prime suspect because witnesses had seen the girl get into his car, but the day after her disappearance he also vanished, albeit temporarily.

When he was finally arrested he told police that he had asked Myrna out, but she refused him. Later he claimed he had parked his car and when he returned to it he found the girl’s naked blood-covered body on the back seat. Panicking, he dumped it.

Police found a .22 rifle and a large amount of ammunition at his home. He was found guilty of murder and hanged in Pretoria Central Prison on Monday, June 10th, 1957, maintaining his innocence to the end.

http://www.truecrimelibrary.com/crime_series_show.php?id=675&series_number=13

(Kisah nyata/Colin Wilson/Emshol

Judul Asli : Rahasianya Di Balik Celana – Kumpulan Cerita Kriminal Majalah Intisari

Percayakah Anda dengan kemampuan Nelson Palmer? Atau hanya kebetulan?

PSYCHIC DETECTIVES; Can the secret power of the human mind solve murders that leave police baffled? Read the astonishing evidence in our new series, and then decide for yourself…

http://www.highbeam.com/doc/1G1-109683553.html

    • Lin
    • December 6th, 2012

    ….

  1. semoga para pembunuh yang dzolim dilaknat

  2. saya juga kasihan dengan banyaknya pristiwa pembunuhan

  3. Selam admin tenku web site super basarilarinizin devamini bekleriz

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: