Pasangan Lesbi ini Membunuh Demi Kesenangan

Alpine Manor, panti jompo lokal di Grand Rapids, Michigan, tahun 1986. Mata seorang penyelia memicing. Cathy, yang ditatap begitu tajam, jadi grogi.

“Jadi, suami meninggalkan Anda bersama seorang anak?”

Gwendolyn Gail Graham (atas) dan Catherine May Wood (bawah)

Gwendolyn Gail Graham (atas) dan Catherine May Wood (bawah)

Dengan menunduk, Cathy mengangguk lemah. Wajahnya mendung, hampir menangis. Padahal, hatinya terbahak, menertawai Kenneth – suaminya – yang pasti tengah repot mengasuh putri tunggal mereka.

“Baik, Anda diterima bekerja. Mulai hari ini.”

Cathy terbelalak. Tubuhnya yang berbobot 198 kg berguncang. Syukurlah, ia sudah bosan menganggur lama.

Ia segera bekerja sebagai pembantu perawat di panti dengan lebih dari 200 kamar tidur, masing-masing berisi dua pasien. Sebagian besar pasien menderita penyakit Alzheimer atau penyakit otak organik lainnya. Sebagian lain menderita sklerosis ganda atau arthritis parah.

Agak ragu dan tersipu, Cathy memulai kerja. Oleh rekan-rekan kerjanya mungkin ia dianggap terlalu sopan, atau bahkan kurang percaya diri, lantaran ia memilih makan sendirian, terpisah dari yang lainnya.

Luka batin

Mata Cathy tertanam ke televisi, ketika Kenneth pulang bekerja pukul enam sore. Pria pendiam itu hanya bisa menarik napas dalam. Ia mendapati rumah mereka amat berantakan. Piring dan gelas kotor berserakan, bungkus snacks dan baju kotor tertebar di lantai. Sementara Cathy – sang nyonya rumah – asyik menikmati opera sabun di televisi sambil terus mengunyah junkfood.

“Aku benci tugas rumah tangga!” Itu kalimat yang selalu disiramkan Cathy ke telinga Ken, setiap kali ia ditegur. Karenanya, tanpa banyak cakap, Ken membereskan rumah, lalu mengurus putri tunggal mereka, Mary, yang juga terbengkelai.

Perkawinan mereka memang berliku. Kenneth Wood baru 19 tahun ketika Catherine May Carpenter alias Cathy yang baru 16 tahun “menembak”nya.

“Pilih aku atau hobimu!” begitu katanya.

Belum habis kaget Ken, tiba-tiba mereka sudah berpacaran. Cathy, kelahiran tahun 1962 di Michigan, AS, di mata Ken, gadis yang unik. Ia lahir di tengah keluarga kurang harmonis. Ayahnya seorang sopir truk gudang yang pernah bekerja di Vietnam, dan ibunya petugas pembukuan.

Sang ayah yang pemabuk berat sering memukulinya dan selalu mengatainya “si gemuk”.

Tumbuh tanpa belaian kasih sayang, Cathy pun kurang dicintai ibunya. Sebagai anak tertua, begitu banyak pekerjaan yang harus ia tangani. Termasuk merawat dua adiknya.

Itu sebabnya, Cathy lebih suka mengurung diri di kamar ketimbang bergaul dengan teman sebaya. Untuk mengendurkan stres, Cathy sering ngemil dan makan dalam jumlah banyak. Akibatnya, badannya terus memuai.

Ken mengenal Cathy sudah dalam keadaan overweight. Namun, ia melihat gadis ini amat haus kasih sayang. Ken merasa iba, ingin sekali ia mengisi kekosongan jiwanya. Ia berharap, bisa memberi Cathy sedikit kebahagiaan.

Ketika Cathy mengaku hamil, Ken pun amat gembira. Mereka putuskan segera menikah, pada Agustus 1979. Usia Ken waktu itu 20, sedangkan Cathy 17. Ken bekerja di pabrik mobil, lalu melanjutkan sekolah hingga menjelang kelahiran anaknya.

Yang agak disayangkan, Cathy kurang memiliki rasa keibuan terhadap putri mereka. Jika si anak sakit, Cathy mengabaikan penyakit anaknya. Ia malah sibuk menyalahkan si mungil Mary yang dianggapnya tak bisa menjaga kesehatan. Ken merasa tak ada gunanya menegur Cathy, sebab yang terjadi kemudian pasti perang mulut.

Ken berusaha memahami masa lalu Cathy yang menorehkan luka batin hingga saat itu. Walau Cathy kurang lembut hati, malah cenderung kasar, Ken tetap mencintainya.

Kekasih baru

Sedemikian bergairah Cathy bekerja, sehingga dalam beberapa bulan saja beratnya menguap jadi tinggal 132 kg (Catatan Himitsu: Beberapa sumber menyebut bahwa Cathy diet keras semenjak bertemu Gwen). Herannya, kenapa ia jadi pesolek? Penampilannya pun berubah. Rambutnya dicat warna platinum. Ia juga suka membeli baju baru dan agak ganjen.

Namun, di balik tampilan baru dan kesigapannya bekerja, Cathy tak bisa menyembunyikan kekasaran jiwanya. Terutama dalam menangani pasien. Pernah, penyelia memanggilnya.

“Cathy, ada pasien mengeluhkan pelayananmu.”

“Oh ya, akan kuperbaiki sikapku,” sahutnya enteng seraya melenggang pergi bak selebriti.

Sulit mengukur perilaku buruk apa yang telah diubah Cathy. Bahkan, ia melakukan lagi apa yang dulu pernah mengisi masa remajanya – yakni berhubungan seksual dengan teman sejenis. Ia menjalin hubungan lesbian dengan rekan kerjanya. Sekali dua ia berhasil menarik wanita ke dalam pelukannya. Rupanya, itu telah menggembungkan egonya sedemikian rupa. Ia mengira, dirinya sedemikian menggoda bagi wanita lesbi lainnya, yang kebetulan bekerja bersamanya. Hanya dalam bilangan minggu ia betah memberi dan menerima kehangatan dari seorang wanita. Selaiknya para pria pencumbu, demikian pula perilaku Cathy. Setelah puas mereguk habis madu sang kekasih, ia akan mencampakkannya. Selanjutnya, ia siap berburu wanita lain yang lebih menggairahkan.

Dengan penuh percaya diri, cukup dengan mengedipkan mata, wanita buruannya langsung paham maksudnya. Dengan bujuk rayu sekadarnya, biasanya wanita itu langsung lumat dalam dadanya yang besar dan lebar.

Apakah perilakunya mengimbas hingga ke rumah?

Tentu. Ken merasakan perubahan itu. Entah sudah berapa bulan mereka tak berhubungan suami-istri. Cathy seperti sudah mati gairah. Dari salah satu karyawan panti jompo Ken mendengar istrinya terlibat sejumlah percintaan sejenis. Ia tak dapat berbuat apa pun untuk membendungnya. Karena lebih membela keutuhan rumah tangga, ia biarkan istrinya dengan segala polahnya itu. Juga ketika Cathy mulai minum alkohol dan kerap mabuk di rumah.

Cathy lepas kendali. Di rumah jompo maupun di rumah, tak ada lagi yang bisa “memegang” dirinya. Bukan saja berlaku bak primadona, di tempat kerja pun ia mulai menggunakan kekuasaan.

Terhadap rekan kerja yang dibencinya, entah karena menolak diajak bercinta atau oleh sebab lain, ia menumpahkan air ke selimut pasien mereka. Ia lalu melaporkan ke penyelia bahwa tempat tidur pasien basah karena ompol, tapi petugas yang bertanggung jawab tidak menggantinya.

Bualannya berhasil, sebab kemudian lawannya itu mendapat peringatan keras. Cathy menyeringai sinis saat lewat di depannya. “Aku menang,” sorak hatinya. Entah apa yang merasuki Cathy hingga ia merasa amat puas bila melihat orang lain hancur tak berdaya oleh “power” yang dimilikinya. Tak seorang pun koleganya berani macam-macam padanya.

Demikian pula para pasien, mereka melihat Cathy seperti melihat monster. Maka, ia pun makin leluasa menanamkan pengaruh pada lingkungan kerja yang mental dan emosinya sudah ia rapuhkan.

Hingga pada suatu siang ….

Cathy tengah rebahan di ranjang, ketika penyelia mengetuk kamarnya.

“Ini Gwen. Pembantu perawat baru. Ia akan sekamar denganmu.”

Setengah mengangguk, tanpa banyak bicara Cathy langsung membuka lemari pakaian. Setelah penyelia pergi, Gwen beringsut mengurai isi kopornya. Ia merasa canggung karena pandangan mata Cathy seperti menelanjangi dirinya.

“Siapa namamu?”

Gwendolin Gail Graham.”

“Usiamu?”

“Dua puluh tiga tahun. Aku lahir di Santa Monica, 1963.”

Beberapa menit kemudian, mereka sudah akrab. Gwen bercerita, ia anak sulung dari tiga bersaudara. Ketika berusia 22 tahun, ibunya yang miskin sudah memiliki tiga anak balita. Sementara itu ayahnya jarang di rumah karena pekerjaannya. Linda, ibunya, biasa memukuli anak-anak-nya dengan sabuk.

“Waktu umurku 18 bulan, ibu sering menyabetiku dengan kabel listrik,” kata Gwen getir.

Adapun Mack, ayah Gwen, kerap berganti pekerjaan. Kerja serabutan memaksa istri dan kelima anaknya berpindah-pindah ke seluruh Kalifornia. Sikapnya cukup keras pada anak-anak. Tak pernah ia menggendong anaknya yang menangis.

“Lihat, di lenganku banyak bekas luka sundutan rokok ayahku.” Selama beberapa tahun, Gwen sering mendapat serangan seksual dari ayahnya (Catatan Himitsu: belakangan tidak terbukti di sidang pengadilan). Untuk melepaskan siksaan emosi, Gwen pun sering menyakiti dirinya sendiri.

Cathy terpaku. Bukan oleh isi cerita Gwen, melainkan oleh gerakan bibir tipis gadis manis itu saat bercerita. Acap kali matanya menyapu goyangan dada Gwen saat diguncang emosi.

Cathy tak perlu menunggu lama. Ketika Gwen mulai terisak, sudah cukup alasan baginya untuk memeluk tubuhnya. Sambil pura-pura berempati, ia leluasa menjamah dan menekan tubuh Gwen.

Cathy hanya butuh waktu sehari untuk memikat Gwen menjadi kekasih barunya. Namun, Cathy sedikit tercengang mendapati Gwen pun cukup mahir berpasangan dengannya.

Ternyata, sedari umur 17, Gwen sudah bertualang. Bahkan pernah tinggal bersama seorang wanita berumur 20 tahun, yang amat mencintainya. Pasangan itu sering minum sampai mabuk dan terkadang juga saling berkelahi.

“Pacar saya itu mendapat pekerjaan di Grand Rapids. Sejak sebulan lalu kami putus,” adu Gwen.

Cathy menanggapi dengan pelukan.

Usir suami

Hanya seminggu Gwen bekerja dengan baik. Ia amat telaten merawat para lansia. Rambutnya yang kemerahan dengan senyuman manis dan lugu, membuat para nenek teringat cucu mereka. Gwen disenangi hampir seluruh penghuni. Namun, ketika dengan amat posesif Cathy “menguasai” Gwen, tampak sekali kekecewaan mereka. Setiap kali pasangan ini masuk ke kamar penghuni, para sepuh itu memandang cemas – bahkan ada yang sangat ketakutan, seolah disatroni monster.

Dengan mesra mereka menutup pintu kamar, hal yang melanggar peraturan panti jompo itu. Sambil saling berbisik dan cekikikan, mereka membersihkan dan mengurus pasien. Bahkan, gilanya, ketika memandikan pasien usia lanjut itu, mereka berdua pura-pura melakukan aktivitas bercinta. Tindakan serupa pun dilakukan di ruang tunggu perawat.

Mereka memang sangat keterlaluan. Apalagi ketika Cathy menceritakan affair-nya itu pada Ken. Bukan skandal itu yang menyentak Ken, melainkan ucapan Cathy ….

“Aku serius dengan Gwen. Kuminta kau keluar dari rumah ini, karena aku dan Gwen akan tinggal bersama di sini!”

“Kamu gila?” sembur Ken.

“Benar. Aku gila asmara. Pergilah kau!”

Dengan amat marah, Ken membopong Mary pergi.

“Ingat Cathy, suatu saat kau akan menyesali keputusanmu ini!”

Cathy membalas dengan seringai. Tak sampai sejam kemudian, Gwen sudah berada di sana. Mereka hidup seatap tak ubahnya suami-istri. Keduanya sedemikian kekanak-kanakan, mengekspresikan cinta dengan saling berbalas puisi yang buruk kualitas, serta saling meninggalkan pesan cinta pada mesin penjawab telepon. Persis remaja kasmaran.

Karena kerekatan itu mengganggu suasana kerja, seorang penyelia berusaha memisahkan mereka berdua dengan menerapkan sistem shift. Namun, keduanya tak mematuhinya. Ketika pasangan ini bekerja secara terpisah, mereka pun sering bertukar tugas dengan pembantu perawat lainnya, agar bisa selalu bersama.

Kematian beruntun

Kisah horror bermula dari sini.

Beberapa kali beberapa pasien mengadu pada pembantu perawat lainnya, bahwa mereka diancam dibunuh oleh seseorang. Namun, karena sebagian besar menderita Alzheimer, maka tak ada perawat yang mau percaya pada mereka. Begitupun ketika seorang pasien kedapatan memar pada pergelangan tangan dan kakinya, tak seorang pun pembantu perawat tertarik akan hal itu. Perawat hanya melakukan tugas rutin. Celoteh mulut-mulut keriput itu cenderung segera mereka lupakan. Apalagi maut memang bisa sewaktu-waktu menjemput para jompo itu.

Marguerita Chambers (60) seorang nenek yang lima tahun sebelumnya didiagnosis menderita Alzheimer, ditemukan tewas di tempat tidurnya pada Januari 1987. Keluarganya terkejut akan kematian mendadak itu. Namun, karena nenek malang itu masuk ke tempat ini dengan menyandang penyakit, maka kematiannya pun dianggap tinggal menunggu waktu saja.

Sebulan kemudian, Februari 1987, Myrtle Luce juga meninggal dunia. Seorang perawat sempat memperhatikan hidung Myrtle Luce berdarah, tetapi ia mengira akibat tekanan darah tinggi atau panasnya suhu di panti jompo. Dengan usia 95 tahun dan berat badan yang terus menurun, siapa peduli akan penyebab kematiannya?

Wanita ketiga yang tewas di ranjang adalah Mae Mason (79). Tak pula ada yang tertarik menyelidiki penyebabnya. Pihak keluarga pun menganggap sebagai takdir yang sudah digariskan.

Akhir Februari 1987, seorang pembantu perawat yang kurang disukai Cathy masuk ke kamar Belle Burkhard (74) untuk mengurus pasiennya itu. Ia terkejut melihat wanita tua itu tewas dengan lengan terlipat di balik tubuhnya. Memang ada memar di kedua lengan itu, tapi mungkin itu karena Belle sering mengalami serangan kejang. Tak ada yang serius menanggapinya, pihak keluarga juga sudah pasrah.

Edith Cook (80) yang sakit parah dan sering mendapat obat penenang. Kondisi tubuhnya terlalu lemah untuk dirawat karena ia juga menderita gangrene. Ia ditemukan meninggal dunia pada Maret 1987.

Malah, suasana sepi dan tak nyaman itu diartikan oleh pasangan kasmaran Cathy dan Gwen sebagai suasana yang amat romantis. Di dalam suasana itu, mereka kian erat berpagut. Tak terpisahkan. Bahkan mereka berjanji takkan pernah saling meninggalkan.

Namun, bukankah pohon cinta menjadi berbunga karena rasa cemburu? Kecemburuan itu kerap membuat cinta terasa makin indah. Pisau cemburu di kalangan cinta sejenis biasanya lebih tajam dari sembilu.

Cathy dan Gwen juga menggunakan cemburu sebagai lem perekat saat mereka rujuk kembali. Hanya, selalu Cathy yang mencemburui Gwen, karena secara fisik Gwen memang berdaya jual lebih tinggi. Tubuh, bibir, dan kemanjaannya sering membuat gemas – bukan hanya pria, melainkan juga wanita.

Cathy pun jadi amat khawatir kehilangan Gwen. Terutama ketika ia mencurigai si manis itu sudah tak loyal lagi padanya. Hal itu terasa pada sikapnya yang mulai melonggar, dan menghindari rujuk kembali.

Ternyata benar, Gwen sedang melirik Robin, gadis semampai, pembantu perawat baru di Alpine Manor. Cathy amat cemburu. Sebelumnya, biasanya ia yang mencampakkan kekasih. Kali ini ia yang dicampakkan. Mula-mula ia merasa rendah diri, saat membandingkan dirinya dengan Robin. Ia muak dengan badan gemuknya.

Dari hari ke hari ia memergoki pasangan Gwen dan Robin semakin mesra. Berpegangan tangan dan saling mencumbu. Hatinya tertusuk raca cemburu, perih sekali.

Hancurlah hidup Cathy ketika akhirnya Gwen dan Robin memutuskan pindah ke Tyler, Texas, pada April 1987. Mereka bekerja sebagai pembantu perawat, kali itu mengurusi bayi. Selama beberapa bulan bekerja di sana, Gwen bekerja dengan baik dan manis.

Bisikan rahasia

Sepeninggal Gwen, Cathy menjadi pemurung dan penyendiri. Ia seperti kehilangan gairah. Di rumah, sering ia menangis sendiri, menyesali nasibnya. Cathy butuh seseorang, yang bisa mendinginkan luka hatinya.

Orang itu Kenneth.

Ken datang tepat waktu. Melihat suaminya pulang ke rumah, Cathy langsung menubruk dan meraung di dadanya. Seperti dulu, Ken lumer. Ia iba melihat keadaan istrinya. Setelah itu ia membawa si mungil Mary. Untuk pertama kalinya rumah itu menemukan kedamaian. Seluruh dinding, lantai, dan langit-langit merasakan keriangan penghuninya.

Hingga tibalah pada suatu malam, bulan Agustus 1987, sebelum berangkat tidur, Ken mendapati istrinya terisak. Lembut ia memegang bahu Cathy. Saat itu, Cathy merasakan betapa tulus cinta suaminya, yang selama ini ia sia-siakan.

“Begitu sulitkah untukmu menerima kami kembali?” suara Ken menelusup kalbu. Cathy menggeleng. Setelah berjuang keras mengalahkan keraguan, akhirnya bibirnya terkuak, “Aku takut kau tak percaya ….”

Lalu Cathy membisikkan sesuatu ke telinga Ken. Cathy mengaku, pernah menekan hidung beberapa pasien yang terikat. Tentunya, itu pasti bukan tindakan seorang wanita yang pemalu. Ia juga mengakui, pernah mengguyur air sedingin es ke muka bayi perempuannya untuk mendiamkan tangisnya.

Ken tersentak. Memandangnya ragu. Sambil memejamkan mata, Cathy mengangguk berkali-kali.

“Aku serius, Ken.”

Namun, Ken mengubur hal itu dalam-dalam. Ia merasa, istrinya baru mengalami keguncangan hebat. Apalagi setelah beberapa bulan bersamanya kembali, ia merasakan Cathy masih mengalami ketidakseimbangan emosi, dingin, dan penuh dendam benci.

Empat belas bulan lamanya Ken tak merasa tenang. Ia terus diganggu oleh apa yang disampaikan Cathy malam itu. Tak tahan terus digigiti masalah itu, akhirnya hati nuraninya membawa langkahnya ke kantor polisi, pada Oktober 1988. Agak gugup, di depan polisi, dengan suara gemetar ia mengulangi kembali pernyataan Cathy.

Polisi bereaksi cepat. Cathy dijemput saat itu juga untuk dikonfrontir dengan laporan suaminya. Polisi tak perlu bersusah payah. Hanya dalam hitungan menit, dengan enteng, seolah melepas beban berat dari batinnya, Cathy mengaku.

“Benar, pembunuhan itu dilakukan Gwen, sedang aku mengawasi pintu.”

Ia tak ingat lagi nama semua korban, tapi ia persempit masa periode kejadiannya cuma beberapa minggu. Ia memberi detail shift yang ia jalani bersama Gwen selama periode itu, serta siapa saja yang bertugas di tempat lain pada waktu bersamaan. Ketika diperiksa silang, informasi ini dibenarkan oleh catatan panti jompo. Tapi polisi tak habis pikir, bahwa Cathy dan Gwen mengalami dan menikmati “kepuasan seks” yang spektakuler saat melakukan semua tindakan keji itu.

Cathy setuju menjalani serangkaian uji kebohongan. Tapi ia terlihat menekankan kedua kakinya kuat-kuat ke lantai ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan tertentu, sebuah taktik yang konon dipakai untuk mengelabui detektor.

Gwen langsung diciduk. Ia sama sekali tak berusaha berkelit. Ini memperlancar BAP polisi.

Cekikan berantai

September 1989. Dalam sidang pengadilan, Cathy Wood dituduh bersalah melakukan pembunuhan tingkat dua. Ia pun setuju untuk bersaksi melawan Gwen Graham.

Ia mengaku, mereka berdua sepakat melakukan pembunuhan secara bergiliran. Jadi, masing-masing tak punya bukti yang saling melemahkan satu sama lain. Anehnya, ia mengatakan tak mampu terlibat dalam aksi pembunuhan itu. Ketika Gwen mencekik korban pertama – Marguerite Chambers, Cathy mengaku memandang kearah lain sebelum pembunuhan selesai dilakukan.

“Saya hanya bisa mendengar – bukan melihat – sewaktu Gwen mencekik Myrtle Luce, Mae Mason, Edith Cook, dan Belle Burkhard. Malah Gwen bilang, ia terpaksa menekankan kedua lututnya kuat-kuat ke atas tubuh Belle, yang menyebabkan salah satu lengannya memar,” ucap Cathy lantang.

Diakui, Cathy tak ingin kehilangan Gwen, sehingga ia ikut dalam pembunuhan tersebut. Ia juga memberikan kesan, secara fisik ia takut akan pacarnya itu. Pengakuannya itu mendengungkan gumam hadirin sidang. Masa iya, Cathy yang beratnya 150 kg takut pada Gwen yang mungil?

Salah seorang saksi pernah melihat, dalam suatu pertengkaran Cathy mengangkat tubuh Gwen dan melemparkannya dengan kasar. Saksi yang lain pernah melihat Gwen berkelahi dengan wanita lain. Bahkan, Gwen maupun Cathy pernah menyerang suami Cathy, Ken, ketika ia datang ke rumah untuk mengambil pakaian. Dalam beberapa jam sidang, Gwen Graham dinyatakan bersalah atas semua tuduhan dan divonis hukuman seumur hidup berganda.

Robin, pacar Gwen, marah. Kepada wartawan ia berteriak, “Gwen dituntut atas dasar kabar burung, dan hanya didasarkan pada kesaksian Cathy Wood.”

Namun, Gwen sendiri pernah mengaku pada Robin, benar melakukan pembunuhan itu dan khawatir Cathy akan melaporkannya kepada yang berwajib. Namun, di depan sidang, Gwen menarik ucapan itu, dan tak pernah mengaku terlibat dalam pembunuhan.

Mata hukum tak pernah berkedip.

Hukuman terhadap Gwen Graham membuang kemungkinan pembebasan bersyarat. Jadi, ia takkan pernah dibebaskan kecuali ada bukti baru yang akan membawa pada pengadilan baru.

Sebaliknya, Kenneth, suami Cathy, mati-matian berbicara di hadapan publik untuk membela istrinya.

Bulan berikutnya, Cathy muncul di hadapan hakim Kent County. Ia diganjar hukuman antara 20 – 40 tahun penjara. Namun, ia memohon agar tidak dikirim ke penjara yang sama dengan Gwen Graham. Ketika ternyata kemudian ia mendapati dirinya berada di tempat yang sama bersama Gwen, ia menolak melakukan kontak mata dengan mantan kekasihnya itu.

Cathy Wood berhak atas pembebasan bersyarat setelah menjalani hukuman kurungan selama 16 tahun. Tanggal pembebasan bersyarat bagi Cathy baru sah pada 2005.

Nonfiksi/Carol Anne Davis/Not

Judul Asli : Gara-gara Patah Hati – Kumpulan Cerita Kriminal Majalah Intisari

Tautan Luar :

http://erichs-kriminalarchiv.npage.de/1_seite_mit_25_f%C3%A4llen_62402415.html

http://www.crimezzz.net/serialkillers/G/GRAHAM_gwendolyn_WOOD.php

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: