Sadis, Balita Malang itu Diculik dan Dibunuh

Kasus kriminal berikut ini adalah kasus terkeji dalam sejarah Jepang modern – di samping kasus Junko Furuta, dan menyita perhatian warga Tokyo. Melibatkan 30 ribu Polisi dan 13 ribu calon tersangka, serta butuh waktu 2 tahun untuk menangkap pelakunya. Simak saja.

Sebuah Truk Susu di Tokyo ikut menempel poster "Yoshinobu kun wo Sagasou"

Sebuah Truk Susu di Tokyo ikut menempel poster "Yoshinobu kun wo Sagasou" - "Mari Mencari Yoshinobu"

Sore itu, 31 Maret 1963, angin bertiup pelan. Semilirnya menyejukkan badan. Seorang anak laki-laki berusia empat tahun, Murakoshi Yoshinobu, tampak asyik bermain di sebuah taman yang terletak tak jauh dari rumahnya, di Taito Ward, Tokyo, Jepang. Keasyikan seorang bocah, yang tak menyadari, nun jauh di sana, sepasang mata mengawasi, menanti kesempatan untuk merenggut keceriaan masa kecilnya.

Murakoshi sudah biasa bermain di taman yang memang disediakan untuk warga sekitar. Sebuah taman kecil yang berhimpitan dengan blok-blok rumah warga, toko-toko, dan gedung-gedung beton. Saking seringnya bermain di taman itu, apalagi biasanya ditemani anak-anak tetangga, membuat orangtua Murakoshi merasa aman, sehingga menganggap tak perlu lagi mengawasi anaknya.

Makanya, sang ayah, Yoshinobu, kontraktor berusia 34 tahun, tak pernah tahu kalau saat itu, anaknya tiba-tiba dihampiri orang tak dikenal. Yoshinobu juga tak tahu, orang asing itu bahkan sempat mengajak Murokoshi bercakap-cakap, bercanda sebentar, berjalan-jalan di sekitar taman, sebelum akhirnya raib entah ke mana.

Bujukan macam apa yang dikeluarkan si orang asing, sehingga Murakoshi menurut saja diajak pergi menjauhi tempat tinggalnya?

Orangtua Murakoshi baru sadar, sesuatu yang kurang beres terjadi pada anaknya, ketika sampai menjelang jam enam malam, putra pertama mereka itu tak kunjung pulang. Padahal biasanya, Murakoshi selalu pulang jauh sebelum pukul 18.00 tiba, dengan perut lapar tentunya. Dibantu para kerabat dan tetangga, Yoshinobu mencoba menemukan Murakoshi dengan menyisir daerah sekitar taman. Namun, hasilnya nihil.

"Shocking crimes of postwar Japan" Oleh Mark Schreiber

"Shocking crimes of postwar Japan" Oleh Mark Schreiber

Bingung dan khawatir, pada pukul 19.00, mereka akhirnya mendatangi kantor polisi terdekat, persisnya kantor polisi Higashi Iriya, Tokyo. Mereka melaporkan hilangnya Murakoshi. Begitu sarat emosi, istri Yoshinobu, Toyoko, ibu muda yang baru berusia 28 tahun, bercerita kepada polisi yang mencatat laporannya. “Taman tempat dia bermain itu letaknya di seberang jalan, Pak, persis di depan rumah kami. Selama ini saya tak pernah khawatir ia bermain di sana. Karena memang tak pernah ada kejadian apa-apa,” Toyoko meradang.

Polisi terpaksa harus menenangkan Toyoko. Yah, untuk sementara, memang hanya itu yang bisa mereka lakukan. Karena mereka belum bisa memastikan, kasus apa yang sebenarnya tengah mereka hadapi. Apakah pembunuhan, penculikan, atau si anak sekadar mampir ke rumah temannya? “Mudah-mudahan bukan penculikan,” timpal seorang petugas jaga kepada rekan detektifnya.

Semoga bukan penculikan. Sebab, dari 171 kasus pembekapan bocah bermotif uang tebusan yang dilaporkan di Jepang, pada tahun 1945 – 1993, 31 korbannya tewas dibunuh penculiknya. Statistik yang tentu saja membuat kecut hati para orangtua!

Titik terang Kikuo

Untuk memperjelas persoalan, polisi segera bergerak cepat. Setelah menanyai sejumlah saksi mata, yaitu para tetangga dan teman-teman Murakoshi, polisi mendapat informasi, si anak hilang itu terakhir kali terlihat bermain dengan Kikuo, temannya yang berusia lebih tua. Tanpa membuang waktu, sejumlah detektif mengejar keterangan Kikuo di rumahnya. Jawaban Kikuo sedikit memberi titik terang.

“Memang benar. Tadinya kami bermain bersama. Tapi kemudian, ketika kami sedang mengisi pistol air Murakoshi, datang seorang laki-laki. Orang itu mengajak ngobrol Murakoshi. Karena sudah ada yang menemani, saya lalu meninggalkan mereka berdua,” jawab Kikuo lancar.

“Kamu sempat mendengar pembicaraan mereka?” tanya seorang detektif.

“Pria itu menegur duluan. Mereka ngobrol soal pistol-pistolan yang dipegang Murokoshi.”

“Hanya itu?”

“Hanya itu yang saya tahu, karena saya langsung pergi,” Kikuo mengangguk.

Polisi juga menanyai ciri-ciri pria asing yang membawa pergi Murakoshi. Menurut Kikuo, si pria masih muda, tingginya sekitar 160 cm dan memakai jas parasut warna abu-abu. Hanya sampai di situ keterangan yang dapat dikorek polisi dari anak lakilaki yang tadinya diharapkan menjadi saksi kunci. Belakangan, ternyata masih ada lagi satu ciri fisik penting si pria asing yang luput dari perhatian Kikuo. Lelaki pembawa lari Murokashi itu ternyata berkaki pincang.

Polisi juga mulai mencari motif, karena tampaknya kasus ini mengarah pada penculikan. Seorang detektif datang ke rumah Yoshinobu, menanyakan apakah pengusaha muda itu punya masalah di kantor. Baik dengan sesama teman kerja maupun rekan bisnis di luar perusahaan. Namun, sejauh ini belum ada nama yang dianggap pantas masuk daftar orang-orang yang dicurigai.

Agar pencarian berjalan efektif, polisi menyebarkan ciri-ciri Murakoshi, terutama saat terakhir kali meninggalkan rumah. Tingginya sekitar satu meter, dengan rambut dipotong pendek layaknya anak-anak kecil di Jepang saat itu. Di saat-saat terakhirnya, ia memakai sweater hitam, kaus oblong, dan celana panjang kuning setrip hitam-abu-abu, kaus kaki biru tua, dan sepatu hitam.

Berdasarkan data, fakta, dan laporan yang masuk, dugaan polisi masih belum berubah: kasus hilangnya Murakoshi kemungkinan besar penculikan. Namun, polisi belum berani menyimpulkan secara resmi. Mereka terus menunggu kontak dari penculiknya.

Lolos jebakan polisi

Setelah beberapa hari tak ditemukan, kasus Murokashi tak lagi menjadi milik polisi dan warga sekitar. Sejumlah media cetak terbitan Tokyo ikut mengekspos kisah hilangnya bocah yang dikenal selalu ceria itu. Sejak pemberitaan gencar itu, seluruh Tokyo bak larut dalam lautan duka mendalam yang menimpa keluarga besar Yoshinobu.

Tanggal 3 April 1963, Maruyama Tasaku, ketua Asosiasi Pengacara Jepang, bahkan secara resmi menyampaikan permintaan pada penculik, agar tak melanjutkan aksi kejinya. Seorang pejabat polisi, saat ditanya wartawan, juga menjanjikan “perlakuan khusus”, jika penculik Murakoshi bersedia menyerahkan diri. Selain mereka berdua, masih banyak lagi “orang penting” yang ikut berbicara di media, mengimbau pembebasan Murakoshi.

Esok harinya, poster Murakoshi mulai dicetak secara besar-besaran dan disebarkan ke seantero kota. Pihak keluarga berharap, gencarnya pemberitaan dan banyaknya poster yang disebarkan membuat hati si penculik (jika memang benar Murakoshi diculik) luluh, sehingga tak melanjutkan niat jahatnya. Kadang, cara seperti ini lebih efektif ketimbang memburu langsung si penculik.

Contoh keberhasilannya sudah ada. Beberapa bulan sebelumnya, pemberitaan meluas di media massa seperti ini pernah terjadi pada kasus penculikan terhadap seorang anak perempuan. Bertubi-tubinya “hantaman” media massa, tampaknya membuat si penculik stres, sehingga memutuskan “menyerah”. Ia meninggalkan korbannya tak jauh dari sebuah stasiun rel bawah tanah Shinjuku.

Begitu juga dengan kasus pembekapan dengan tebusan Kim Min Soo, seorang bocah asal Korea Selatan di Chiba. Setelah diberitakan secara luas, kasus penculikan itu akhirnya berujung damai. Si bocah pun kembali ke pangkuan orangtuanya dengan selamat, setelah sempat dibekap selama dua bulan.

Apakah taktik serupa mempan untuk menekuk penculik Murokashi? Tentu saja waktu yang akan membuktikan. Namun, setidaknya, ramainya pembicaraan tentang nasib bocah yang tengah menjadi “anak kesayangan” Tokyo itu membuat penculiknya tahu alamat dan nomor telepon keluarga korban. Alhasil, tanggal 6 April, telepon di rumah orangtua Murakoshi – yang telah lama disadap polisi – berdering.

Untuk pertama kalinya sejak dilaporkan raib, penculik Murakoshi menelepon, dan seperti diduga sebelumnya, meminta uang tebusan. Buat polisi, dering telepon itu sekaligus memastikan, mereka memang benar-benar berhadapan dengan penculik bocah. Salah satu pelaku tindak kriminal yang paling mereka benci. Orang dewasa yang memanfaatkan ketidak-berdayaan bocah-bocah tak berdosa.

“Anda benar-benar akan membawa uangnya, ‘kan?” bunyi suara di seberang sana.

“Tentu, tentu, saya akan bawa uangnya,” Yoshinobu agak gugup.

“Tapi ingat, tidak ada orang lain. Anda harus sendirian.”

“Tidak masalah. Saya akan datang sendirian. Di mana harus diserahkan?”

“Apa?”

“Uangnya. Di mana harus saya serahkan?” ulang Yoshinobu.

“Datanglah ke Showa Dori (Hmts: Jalan Showa). Di ujung jalan, Anda akan melihat Sunagawa Motor Company.”

“Maksud Anda, Shinagawa Motor?”

“Ya, betul. Shinagawa. Ada lima truk yang diparkir di sana. Letakkan uangnya di truk ketiga dari depan. Sekali lagi saya ingatkan, sebaiknya Anda datang sendirian. Kalau tidak …,” si penculik mengancam.

“Bagaimana kalau saya ditemani seorang anggota keluarga?”

“Mmmm.”

“Dia akan jadi sopir saya. Bagaimana?”

“Mmmmm.”

“Boleh ‘kan?”

“Okelah. Sampai nanti.”

Menyadari pentingnya “transaksi” yang akan dilakukan, polisi langsung melakukan persiapan. Mereka menempatkan lusinan detektif berbaju preman di sekitar titik pertemuan. Sayangnya, meskipun rencana penyergapan yang mempertaruhkan nyawa bocah tak berdosa itu dipersiapkan dengan matang, hasilnya ternyata mengecewakan. Keteledoran kecil yang dilakukan kerabat sekaligus sopir Yoshinobu berdampak sangat besar. Pelaku penculikan lolos begitu saja dari jebakan polisi.

Sopir Yoshinobu salah memahami kode lambaian tangan yang dilakukan seorang perwira polisi. Tanda itu dianggapnya sebagai isyarat agar mengambil rute terdekat dan segera menyerahkan uang tebusan yang telah disiapkan, sesuai petunjuk penculik. Akibatnya, polisi di lapangan tak lagi terkoordinasi, mereka bahkan baru sampai ke titik penyerahan uang tiga menit setelah tebusan ditaruh. Polisi mencoba menyisir lokasi kejadian, tapi terlambat, karena si penculik dan uang tebusan 500.000 Yen telah kabur entah ke mana.

Kegagalan tadi jelas berimplikasi besar. Si penculik menjadi orang yang benar-benar “beruntung”. Uang didapat, sandera tetap di tangan. Tak ada yang bisa memperkirakan, bagaimana nasib bocah itu kini. Murakoshi yang malang, dia bisa saja kembali, tapi bisa juga tak akan pernah terlihat lagi.

Gagal berulang tahun

Sejak gagalnya “transaksi” penyelamatan Murakoshi, makin banyak pihak yang mengkhawatirkan nasib anak tak berdosa itu. Logikanya, jika si penculik sudah mendapatkan semua yang diminta, buat apa lagi menyimpan sandera? Bukankah keberadaan si bocah justru menjadi beban yang sangat merepotkan? Hanya ada dua pilihan yang dimiliki si penculik, melepaskan sandera atau membunuhnya. Nah, kemungkinan kedua inilah yang ditakutkan warga kota.

Di stasiun-stasiun kereta api bawah tanah, para kepala stasiun berinisiatif mengumandangkan himbauan agar si penculik membebaskan Murakoshi. Himbauan yang disampaikan secara berkala itu menunjukkan keprihatinan mendalam masyarakat Tokyo atas raibnya Murakoshi. Berbagai tulisan tentang ibu kandung Murakoshi, Toyoko, yang dicetak sejumlah media tulis, terasa menyentuh. Dalam tulisan itu diceritakan, betapa Toyoko tak pernah bisa benar-benar tidur, sejak anaknya diculik.

“Saya berharap, Murakoshi dibebaskan sebelum ulang tahunnya yang kelima, 17 April nanti. Saya juga ingin membawanya ke festival anak, tanggal 5 Mei. Setiap tahun kami sekeluarga selalu ke sana,” harap Toyoko, seperti dilansir sejumlah media cetak. Namun, permintaan Toyoko tampaknya hanya akan menjadi sekadar permintaan. Terbukti, sampai hari ulang tahunnya tiba, bahkan sampai festival anak selesai dilaksanakan, Murakoshi tak juga kembali ke rumah.

Di luar stasiun kereta api serta rumah keluarga, kerabat, dan tetangga, imbauan dan gerakan moral menuntut Murokashi dibebaskan pun makin sering terdengar.

Berbagai LSM mendesak penculik agar tak menjadikan bocah tak berdosa sebagai tameng kehajatannya. Para politisi pun tak mau kalah, ikut bersuara. Total jenderal, tak kurang dari 700 ribu orang menjadi sukarelawan, sebagian besar bergerak secara tak resmi, membantu polisi mencari Murakoshi.

Namun, hari berlalu, bulan berganti, tahun pun bergulir, jejak si penculik masih juga misterius. Untuk mengatasi kebuntuan, polisi bahkan memperbanyak dan menyebarkan rekaman percakapan telepon antara si penculik dengan orangtua korban, ke stasiun-stasiun radio dan televisi. Rekaman itu menjadi bahan perbincangan menarik di media massa.

Tujuan polisi, agar khalayak – berbekal kaset rekaman tadi – ikut memberi penilaian atau informasi yang langsung mengarah pada pelaku, mendapat sambutan luar biasa. Menurut para ahli bahasa, dialek si penculik menunjukkan dia berasal dari Tohoku, sebuah daerah di utara Jepang. Dari rekaman suara itu terungkap pula, pelaku kerap menggunakan istilah-istilah yang berhubungan dengan dunia militer.

Pelaku diperkirakan berusia sekitar 40-an tahun, bisa juga lebih.

Tamotsu Kohara diinterogasi

Tamotsu Kohara diinterogasi

Selain komentar, banyak juga telepon masuk ke kantor polisi, rata-rata menyatakan “sepertinya mengenal” orang yang suaranya mirip dengan suara penculik di kaset rekaman. Namun, setelah diselidiki lebih jauh, polisi belum atau tidak menemukan bukti-bukti keterlibatan orang-orang yang dilaporkan sebagai pemilik suara mirip penculik Murakoshi itu.

Toh aparat penegak hukum tak pernah putus asa. Penyelidikan terus bergulir.

Sampai akhirnya, tahun 1964, seiring peresmian kereta api cepat Shinkansen dan status Tokyo sebagai tuan rumah olimpiade, perhatian warga terhadap kasus Murakoshi mulai terpecah. Sepertinya, sulit buat polisi menemukan jalan keluar kasus ini. Bahkan hidup-mati Murokashi pun tak diketahui.

Kirim rekaman ke Amerika

Ajaibnya, justru ketika hampir semua orang sudah melupakan tragedi yang menimpa anak kesayangan Yoshinobu, persisnya Juni 1965, dua tahun tiga bulan setelah kasus penculikan Murokashi pertama kali dilaporkan, polisi mengumumkan keberhasilannya menemukan jejak tersangka penculikan. Hasil penyelidikan yang melibatkan 30 ribu polisi dan 13 ribu calon tersangka itu, menurut aparat penegak hukum, mulai mengerucut pada sebuah nama, Kohara Tamotsu (Hmts: beberapa versi yang menyebut nama pelakunya adalah Obara Tamotsu).

4 year-old Yoshinobu Murakoshi fails to come home from a local park; several days later his family receives a phone call demanding ransom. Police fail to apprehend the person who collected the ransom, and the case generated massive publicity. Two years later they identified Tamotsu Obara as the kidnapper, who admitted under questioning to have murdered the child.

http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_major_crimes_in_Japan

Pria 29 tahun, yang sudah beberapa kali keluar-masuk penjara (termasuk tahun 1956, ketika dia ditahan karena pencurian, data yang dijadikan dasar penelusuran polisi) terakhir melakoni pekerjaan sebagai tukang servis jam tangan. Anak petani miskin yang memiliki 10 saudara itu, terserang penyakit tulang ketika duduk di kelas 5 SD, sehingga satu kakinya tak dapat berjalan normal. Umur 15, dia belajar teknik servis jam di Ishikawa, kota kecil tak jauh dari kampung halamannya.

Bosan tinggal di kampung, Kohara mengadu nasib di belantara Tokyo ketika menginjak usia 27 tahun. Dia mendapat pekerjaan sebagai tukang servis di sebuah toko jam, dengan gaji 24.000 Yen per bulan. Gaji yang sebenarnya lumayan, tapi buat Kohara, uang sebesar itu tak sebanding dengan kebutuhan hidupnya di kota sebesar Tokyo.

Tak heran, dia meninggalkan banyak utang di mana-mana. Utang itu makin lama makin menumpuk, sehingga kadang harus dilunasinya dengan melakukan tindak kejahatan. Sebelum terlibat kasus penculikan Murakoshi, setidaknya Kohara telah lima kali ditangkap aparat kepolisian, dua kali di antaranya membuat penjahat kambuhan ini masuk bui.

Polisi yakin, Kohara yang berasal dari utara Jepang (dialeknya cocok dengan dialek penculik hasil rekaman polisi) adalah pelaku sejati penculikan Murakoshi. Untuk lebih meyakinkan, polisi Jepang mengirim dua sampel rekaman suara ke Amerika Serikat untuk diperbandingkan. Sampel pertama berisi rekaman suara Kohara paling akhir, sedangkan sampel kedua, berisi rekaman suara penculik saat meminta uang tebusan di telepon beberapa tahun lalu.

Hasilnya, pas bin cocok. Dua suara yang diperbandingkan disimpulkan berasal dari satu sumber. Namun, meski telah didukung oleh bukti ilmu pengetahuan, polisi tetap mengharapkan pengakuan Kohara. Di Jepang pengakuan tersangka tetap menjadi dasar paling kuat untuk menjebloskan seseorang ke penjara. Apalagi jika tuduhannya tindak pidana berat. Sialnya, dari hari ke hari, sikap Kohara justru makin menyebalkan. Dia kerap berpolah tidak kooperatif. Bahkan Kohara bersikukuh tak pernah melakukan penculikan seperti yang dituduhkan kepadanya. “Saat kejadian itu berlangsung, saya sedang ada di rumah,” jawabnya mantap, meski alibinya itu tak didukung saksi mata. Untuk ukuran seorang penjahat, Kohara tergolong cerdas, walaupun kecerdasannya itu tampak nyata, lebih sering dimanfaatkan untuk menipu dan berbuat tidak jujur.

Guna membungkam kebandelan Kohara, polisi akhirnya merencanakan interogasi maraton, antara tanggal 3 Juli dan 4 juli 1965. Kohara didesak dengan berbagai pertanyaan, disajikan berbagai fakta, termasuk utang-utangnya yang langsung lunas pasca penculikan Murakoshi, atau alibinya yang dengan mudah dipatahkan karena tak didukung saksi mata. Kerja keras polisi akhirnya berbuah manis.

Ribuan warga Tokyo memadati jalan pada prosesi pemakaman Yoshinobu

Ribuan warga Tokyo memadati jalan pada prosesi pemakaman Yoshinobu

Dalam rasa lelahnya, Kohara mengaku. Dia mengaku menculik Murokashi seorang diri, tanpa bantuan orang lain. Motifnya semata demi uang, lantaran terbelit utang yang menggunung. Ketika melihat Murakoshi di sebuah taman kecil, niat jahat langsung terbersit di hati Kohara. Setan membisikinya untuk membujuk bocah yang sedang bermain pistol air itu, mengajak ngobrol, lalu jalan-jalan menjauhi kawasan tempat tinggal Murakoshi.

Sekitar pukul 22.00 waktu setempat, mereka sampai di Kuil Entsuji, Minami Senju, Arakawa Ward, Tokyo. Namun, Kohara sebal, karena di perjalanan, Murakoshi terus-menerus merengek minta pulang. Karena tidak ingin mengundang perhatian orang banyak, Kohara memutuskan membungkam mulut Murakoshi, selamanya. Buah hati Yoshinobu itu dicekik sampai meninggal, di sebuah tempat sepi di lingkungan kuil.

Mayatnya sempat disembunyikan di gudang, sebelum akhirnya dikuburkan di pekuburan belakang kuil.

Berdasarkan pengakuan Kohara, dini hari itu juga polisi langsung mengecek pekuburan di belakang Kuil Ensutji. Benar saja, mereka menemukan sisa tulang belulang Murakoshi, tak jauh dari batu nisan bertuliskan “Ikeda”. Orangtua korban yang diberi tahu soal penemuan mayat anaknya tampak sangat terpukul. Tak lama kemudian, mereka mendatangi lokasi penemuan mayat. Harapan menjumpai Murakoshi dalam keadaan hidup pupus sudah.

“Ini benar sepatu Murakoshi?” tanya seorang polisi, di lokasi penggalian.

“Ya. Celananya juga,” papar sang ayah pelan.

Jizo - patung Dewa Pelindung didirikan di dekat Stasiun Minami Senju (Tokyo) untuk mengenang Yoshinobu

Jizo - patung Dewa Pelindung didirikan di dekat Stasiun Minami Senju (Tokyo) untuk mengenang Yoshinobu

Setelah itu, suasana berubah hening. Tak ada kata-kata yang sanggup melukiskan kepedihan hati orangtua Murakoshi, polisi yang bertahun-tahun menyelidiki kasus ini, dan banyak orang yang masih menginginkan Murakoshi dapat kembali bermain dengan teman-teman sebayanya. Yang terdengar hanya bunyi denting pacul dan peralatan lain untuk menggali, saat terbentur batu-batu kerikil.

Kepedihan itu sedikit terobati ketika pada 1967, pengadilan memutuskan Kohara sangat layak dijatuhi hukuman mati. Di usia 38 tahun, tepatnya tanggal 23 Desember 1971, hidup Kohara berakhir di tiang gantungan di Kosuge, Tokyo.

Satu hal yang menarik, Kohara ternyata mendapat ide untuk melakukan penculikan Murakoshi, ketika sedang menonton film di gedung bioskop. Ceritanya, 11 hari sebelum beraksi, ia berniat refereshing, menonton sebuah film yang baru saja dirilis, judulnya High and Low, dibintangi Mifune Toshiro. Entah disengaja, entah kebetulan semata, cerita film itu ternyata berputar-putar soal penculikan bocah!

(Kisah nyata/Mark Schreiber/Icul)
Judul Asli : Dikenali Dari Suaranya – Kumpulan Cerita Kriminal Majalah Intisari

Kisah Nyata ini telah difilmkan dengan judul “Sengo saidai no yûkai: Yoshinobu chan jiken” – “Penculikan terbesar pasca Perang: Kasus si Kecil Yoshinobu” (TV 1979)
Director: Hideo Onchi
Writer: Eizaburo Shiba (teleplay)
Stars: Shigeru Izumiya, Etsuko Ichihara and Mikiko Otonashi

Kasus ini bisa dibaca secara lebih detail di buku “Shocking crimes of postwar Japan” Oleh Mark Schreiber, dengan Sub-Bab “Murakoshi Tragedy”

Other crimes described are no less interesting for actually having a proper conclusion, like the heartbreaking kidnapping and death of the boy Yoshinobu Murakoshi — the Japanese version of the Adam Walsh case. The latter, and several of the other incidents in the book, point up how authorities in Japan for a long time preferred confessions to a preponderance of physical evidence in capital crimes: it not only gives the cops something easy to sign off with, but provides the public with that much more of a sense that the guilty have not only been found but made to atone for their transgressions. I suspect this feeling is not confined to Japan, either: when Josef Mengele’s body was exhumed and verified, Time magazine wrote: “His bones do not satisfy.” We wanted more than his corpse as payment for all that suffering. Yoshinobu’s killer — Tamotsu Kohara, a former watch repairman already in prison for theft — eventually cracked under police scrutiny and expressed grave remorse for killing the boy, something that may well have been instrumental in allowing the parents to move on with their lives.

http://www.genjipress.com/2009/01/shocking-crimes-of-postwar-jap.html

    • juhro
    • May 26th, 2013

    Sedih dan terharu membaca kisah ini, dan hukuman mati buat si penculik memang sudah sepantasnya, , ,
    Selamat buat team kepolisian kota tokyo.

  1. I’m extremely impressed with your writing skills and also with the format on your weblog.
    Is this a paid subject matter or did you customize it yourself?
    Anyway keep up the nice quality writing, it’s uncommon to
    look a nice blog like this one nowadays..

  2. I really like reading an article thast can make people think.

    Also, thank yoou for allowing for me to comment!

  3. ni beneran ni gan? serem ya gan. cakep gan artikelnya

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: